Sabtu, Desember 11, 2010

Pendekatan Sains-Teknologi-Masyarakat (S-T-M)

Makalah Pendidikan Disampaikan dalam Perkuliahan Pengembangan Bahan Ajar Biologi Sekolah Lanjutan di Sekolah Pascasarjana UPI Tahun 2007


ABSTRAK

Penemuan teknologi membawa dampak pada lahirnya konsep, teori, serta hukum sains. Begitupula konsep sains, teori serta hukum yang dikemukakan oleh ilmuwan membawa dampak pada penemuan teknologi. Sains Teknologi Masyarakat adalah untuk menyediakan siswa koneksi yang nyata dengan kelas dan masyarakat sehingga tepat untuk mempersiapkan peserta didik ketika berhadapan dengan berbagai perkembangan sains dan teknologi di lingkungannya. Program S-T-M memiliki karakteristika yaitu, identifikasi masalah-masalah setempat/lokal yang memiliki kepentingan dan dampak, penggunaan sumber daya setempat/lokal (manusia dan benda) untuk mencari informasi yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah, keikutsertaan yang aktif dari siswa dalam mencari informasi yang dapat diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari, penambahan/perpanjangan belajar di luar kelas dan sekolah, fokus kepada dampak dari sains dan teknologi terhadap siswa, suatu pandangan bahwa konten sains bukan hanya konsep-konsep yang harus dikuasai siswa dalam tes, penekanan dalam keterampilan proses dimana siswa dapat menggunakannya dalam memecahkan masalah, penekanan pada kesadaran karir yang berkaitan dengan sains dan teknologi, kesempatan bagi siswa untuk mencoba berperan sebagai warga negara atau anggota masyarakat dimana ia mencoba untuk memecahkan isu-isu yang telah diidentifikasi, identifikasi dampak sains dan teknologi di masa depan, kebebasan atau otonomi dalam proses belajar. Untuk lebih mengaktualisasikan penggunaan pendekatan S-T-M dalam pembelajaran IPA, maka dilaksanakan dalam tahapan-tahapan, dimulai dengan tahap inisiasi, tahap pembentukan konsep, tahap aplikasi konsep, tahap pemantapan konsep, tahap pelaksanaan evaluasi.


A. PENDAHULUAN
Dewasa ini, kata pengetahuan dan teknologi begitu familiar dalam kehidupan sehari-hari sehingga memunculkan akronim IPTEK dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan sains merupakan kata serapan dari bahasa Inggris, science. Dari segi etimologi, science berasal dari kata scientia, yang mengandung arti pengetahuan (Poedjiadi, 1987). Menurut filsafat ilmu, pengetahuan yang terkoordinasi, terstruktur dan sistematik disebut ilmu. Pengertian sains dibatasi hanya pada pengetahuan yang positif, artinya yang hanya dapat dijangkau oleh panca indera kita (Poedjiadi, 2005). Pada mulanya ilmu hanya berkaitan dengan alam, namun dalam pemaparan selanjutnya akan dikemukakan bahwa ilmu dalam perkembangannya juga berkaitan dengan masyarakat.

Hampir setiap segi kehidupan kita terkait dengan teknologi. Sejak bangun tidur di pagi hari kita melihat jam dinding untuk mengetahui waktu dengan tepat agar kita tidak terlambat melakukan kegiatan yang telah dijadwalkan. Jam dinding, pakaian, alat transportasi adalah hasil kegiatan manusia yang ditujukan untuk mempermudah kita dalam melakukan tugas sehari-hari. Teknologi lahir karena adanya kebutuhan manusia. Dengan kata lain, kegiatan teknologi bermula dari adanya masalah-masalah yang sedang dihadapi manusia dalam beradaptasi dengan lingkungan dan alamnya. Di lain pihak, sains berawal dari adanya sifat ingin tahu manusia dengan pengajuan pertanyaan-pertanyaan tentang dunia kealaman (natural world). (Poedjiadi, 2005; Trowbridge & Bybee dan Yager dalam Toharudin, 2007).

Penelitian tentang struktur membran yang dilakukan menggunakan mikroskop elektron telah dapat menjelaskan senyawa-senyawa kimia penyusun membran sel. Penggunaan mikroskop elektron mampu membantu penyelidikan terhadap bakteri dan virus yang berukuran mikro. Hal ini tentu pada mulanya didorong oleh adanya kebutuhan manusia terhadap suatu instrumen yang dapat mempermudah pengamatan jasad-jasad renik. Setelah tahun 1950, mikroskop elektron merupakan salah satu alat yang paling penting bagi kemajuan dan perkembangan biologi.

Contoh tersebut menunjukkan kepada kita bahwa penemuan teknologi membawa dampak pada lahirnya konsep, teori, serta hukum sains. Begitupula bahwa konsep sains, teori serta hukum yang dikemukakan oleh ilmuwan membawa dampak pada penemuan teknologi (Poedjiadi, 2005). Penemuan teknologi ini berwujud terciptanya alat-alat baru maupun penyempurnaan alat-alat lama. Penemuan maupun penyempurnaan alat ini berdampak pula bagi penemuan dan pengembangan sains. Dengan demikian, kaitan antara sains dan teknologi merupakan hubungan timbal balik yang saling menguntungkan.

Teknologi lahir tentunya disebabkan adanya kebutuhan masyarakat. Namun penggunaan produk teknologi sangat memerlukan kesiapan masyarakat sebagai pengguna produk tersebut. Apabila masyarakat pengguna kurang siap, maka kegunaan atau manfaat produk teknologi kurang optimal. Hal ini berarti tujuan diciptakannya produk teknologi tersebut tidak tercapai. Kesiapan yang harus dimiliki oleh pengguna suatu produk teknologi adalah kesiapan mental untuk tidak menggunakan produk teknologi untuk tujuan yang dampaknya merugikan orang atau masyarakat. Sains merupakan komponen krusial yang dapat membantu kesiapan pengetahuan masyarakat tentang produk teknologi. Di samping itu, sains juga dapat berperan dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penggunaan sumber daya alam atau meningkatkan pemahaman masyarakat tentang gejala alam dalam kehidupan sehari-hari (Poedjiadi, 2005).


B. SAINS-TEKNOLOGI-MASYARAKAT
1. Sejarah Perkembangan S-T-M

Sains Teknologi Masyarakat (S-T-M) merupakan alihan dari Science Technology Society (S-T-S). Ide dibalik program STS adalah untuk menyediakan siswa koneksi yang nyata dengan kelas dan masyarakat (King, -). S-T-S telah menjadi gerakan pendidikan sains di Amerika Serikat sebagai respon terhadap kondisi dan situasi pendidikan sains pada saat itu yang kurang optimal dalam mempersiapkan peserta didik untuk berhadapan dengan berbagai perkembangan sains dan teknologi di lingkungannya.

Istilah S-T-S untuk pertama kali diciptakan oleh John Ziman dalam bukunya “Teaching and Learning About Science and Society”. Ziman mencoba mengungkapkan bahwa konsep-konsep dan proses-proses sains yang diajarkan seharusnya relevan dengan kehidupan siswa sehari-hari (Galib, 2001).

The National Science Teachers Association (NSTA), mendefinisikan S-T-M sebagai belajar dan mengajar sains dalam konteks pengalaman manusia. Yager et.al (Sukri, 2000), mendefinisikan S-T-M mencakup tujuan, kurikulum, asessmen dan khususnya mengenai pengajaran. Dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh para tokoh, pada prinsipnya yang menjadi dasar apa yang dilakukan oleh program S-T-M adalah menghasilkan warga negara yang memiliki pengetahuan yang cakap sehingga mampu membuat keputusan-keputusan yang krusial (kreatif dan strategis) tentang masalah dan isu-isu mutakhir dan mengambil tindakan sesuai dengan keputusan yang dibuatnya tersebut (Gilberti, -).

Yager dan Roy (Galib, 2001) menyatakan sejarah singkat S-T-S sebagai berikut. Mulai tahun 1970, beberapa universitas di AS, --- Cornell, Penn State, Stanford, dan SUNY-Stock Brook --- secara resmi memulai program yang menawarkan pelajaran pada bidang studi yang sekarang disebut STS/S-T-M. Hal yang sama juga dilakukan konsorsium universitas di Inggris. Kemudian secara berangsur beberapa negara dan lembaga lain bekerja sama, menjadi penelitian utama universitas, dan sekitar 100 lembaga menjadikan S-T-M sebagai bidang akademik. Sebagai suatu momentum perkembangan S-T-M, pada tahun 1977 muncul sebuah proyek yang disebut Norris Harms’ Project Synthesis dengan empat tujuan utama, yaitu: (1) mempersiapkan siswa untuk menggunakan sains bagi pengembangan hidup dan mengikuti perkembangan dunia teknologi; (2) mengajar para siswa untuk mengambil tanggung jawab dengan isu-isu teknologi/masyarakat; (3) mengidentifikasi tubuh pengetahuan fundamental sehingga siswa secara tuntas memperoleh kepandaian dengan isu-isu S-T-M; dan (4) memberikan suatu gambaran yang akurat kepada siswa tentang peersyaratan dan kesempatan dalam karir yang tersedia dalam bidang S-T-M.

Setelah proyek tersebut dilaporkan pada tahun 1981 (Harms dan Yager dalam Galib, 2001), NSTA berinisiatif melakukan suatu penelitian untuk meningkatkan mutu program pendidikan sains. Dalam hal itu, S-T-M merupakan salah satu bidang penelitian awal pada tahun 1982-1983 dan juga tahun 1986. Sejak itu, secara nasional merupakan upaya awal, S-T-M menjadi fokus bagi sekolah sains--- adalah suatu bidang untuk mengidentifikasi tujuan-tujuan baru, kurikulum baru, modul-modul, strategi pembelajaran yang baru, dan bentuk-bentuk baru untuk evaluasi. Hal itu telah digunakan dalam pembaruan pendidikan sains di Iowa sejak dimulai suatu program Chautauqua NSTA-NSF pada tahun 1983 (Yager dalam King, -). Dan sekarang, sudah lebih dari 1.700 guru, khususnya pada kelas 4-9 telah mengembangkan dan memperkenalkan modul-modul S-T-M dalam ruang kelas sains mereka. Dalam tahun 1990 di AS, S-T-M telah diperkenalkan pada 2000 fakultas dan 1000 SLTA dalam bentuk pelajaran (Harms dan Yager dalam Galib, 2001).

Program S-T-M memiliki 11 karakteristik (Yager dalam Sukri, 2000) :
  1. Identifikasi masalah-masalah setempat/lokal yang memiliki kepentingan dan dampak.
  2. Penggunaan sumber daya setempat/lokal (manusia dan benda) untuk mencari informasi yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah.
  3. Keikutsertaan yang aktif dari siswa dalam mencari informasi yang dapat diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Penambahan/perpanjangan belajar di luar kelas dan sekolah.
  5. Fokus kepada dampak dari sains dan teknologi terhadap siswa.
  6. Suatu pandangan bahwa konten sains bukan hanya konsep-konsep yang harus dikuasai siswa dalam tes.
  7. Penekanan dalam keterampilan proses dimana siswa dapat menggunakannya dalam memecahkan masalah.
  8. Penekanan pada kesadaran karir yang berkaitan dengan sains dan teknologi.
  9. Kesempatan bagi siswa untuk mencoba berperan sebagai warga negara atau anggota masyarakat dimana ia mencoba untuk memecahkan isu-isu yang telah diidentifikasi
  10. Identifikasi dampak sains dan teknologi di masa depan.
  11. Kebebasan atau otonomi dalam proses belajar.
S-T-M menyediakan arahan-arahan untuk mencapai literasi sains dan teknologi untuk semua orang dan S-T-M sebagai perekat yang mempersatukan sains/IPA, teknologi, dan masyarakat secara bersama-sama (Hidayat dalam Sukri, 2000).

2. Teori Belajar Konstruktivisme Mendasari Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (S-T-M)
Teori belajar sebagai dasar bagaimana terjadinya belajar atau bagaimana informasi diperoleh siswa dan bagaimana informasi diproses di dalam pikiran siswa itu harus dipahami dan diterima secara benar oleh seorang guru. Berlandaskan suatu teori belajar, diharapkan suatu pembelajaran dapat lebih meningkatkan perolehan siswa sebagai hasil belajar.

Gagne (Sukri, 2000) menyatakan untuk terjadi belajar pada diri siswa diperlukan kondisi belajar, baik kondisi internal maupun eksternal. Kondisi internal merupakan peningkatan (arising) memori siswa sebagai hasil belajar terdahulu. Memori siswa yang terdahulu merupakan komponen kemampuan yang baru, dan ditempatkannya bersama-sama. Kondisi eksternal meliputi aspek atau benda yang dirancang atau ditata dalam suatu pembelajaran. Sebagai hasil belajar (learning outcomes), Gagne menyatakannya dalam lima kelompok, yaitu intelectual skill, cognitive strategy, verbal information, motor skill, dan attitude.

Gagne menekankan pentingnya kondisi internal dan kondisi eksternal dalam suatu pembelajaran, agar siswa memperoleh hasil belajar yang diharapkan. Dengan demikian, sebaiknya guru memperhatikan atau menata pembelajaran yang memungkinkan mengaktifkan memori siswa yang sesuai agar informasi yang baru dapat dipahaminya. Kondisi eksternal bertujuan antara lain merangsang ingatan siswa, penginformasian tujuan pembelajaran, membimbing siswa mempelajari materi yang baru, memberikan kesempatan pada siswa menghubungkan dengan informasi yang baru.

Menurut Yager (Sukri, 2000), pendekatan S-T-M sejalan dengan pelaksanaan konstruktivisme dalam pembelajaran. Menerapkan konstruktivisme dalam pembelajaran, berarti menempatkan siswa pada posisi sentral dalam keseluruhan program pengajaran. Pertanyaan yang muncul digunakan sebagai dasar diskusi, investigasi, dan kegiatan kelas/laboratorium. Pendekatan S-T-M sangat memperhatikan hal-hal tersebut, bahkan memberikan kesempatan kepada siswa sebagai pengambil keputusan, di samping kesadaran pada pengembangan karir.

Secara konseptual, pendekatan S-T-M dapat dikaitkan dengan asumsi bahwa sains dan teknologi memiliki keterkaitan timbal balik, saling mengisi, saling tergantung, dan saling mempengaruhi dalam mempertemukan antara permintaan dan kebutuhan manusia serta membuat kehidupan masyarakat lebih baik dan mudah.

Selanjutnya Hungerford, Volk & Ramsey (Galib, 2001) menggambarkan keterkaitan sains, teknologi, dan masyarakat dalam suatu paradigma interaksi seperti terlihat pada gambar berikut.
Gambar 1. Interaksi Sains-Teknologi-Masyarakat

Gambar di atas menunjukkan bahwa sains-teknologi-masyarakat sangat erat keterkaitannya. Dalam hal itu, Dimyati (Galib, 2001) menyatakan bahwa teknologi dan sains tidak pernah terpisah. Karena itu, menurut Hoolbrool, memahami sains hanya sebagai suatu kesatuan konsep-konsep atau prinsip-prinsip, berarti memisahkan sains dari teknologi, dan sains hanya dipandang sebagai ilmu murni ketimbang sebagai mata pelajaran yang dapat diterapkan. Pernyataan tersebut mengandung suatu makna bahwa siswa yang telah belajar konsep-konsep sains perlu didorong untuk menggunakan/menerapkannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, misalnya untuk menghasilkan teknologi dan menjelaskan fenomena/peristiwa-peristiwa alam yang dijumpai.

Pendekatan S-T-M merupakan salah satu alternatif untuk memecahkan permasalahan seperti yang dihadapi dunia pendidikan saat ini. Pendekatan yang menampilkan peranan sains dan teknologi di dalam kehidupan masyarakat karena pendidikan sains dengan pendekatan S-T-M akan memberikan keuntungan kepada para siswa yang ingin meningkatkan literasi sains, perhatian terhadap sains dan teknologi serta perhatian terhadap interaksi antara sains, teknologi dan masyarakat. Keunggulan pendekatan S-T-M ditinjau dari beberapa segi (Wahyudi et. al dalam Sukri, 2000):
  1. Dari segi tujuan: (1) meningkatkan keterampilan proses sains, keterampilan inkuiri dan pemecahan masalah; (2) menekankan cara belajar yang baik yang mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotorik; (3) menekankan sains dalam keterpaduan inter dan intra bidang studi.
  2. Dari segi pembelajaran: (1) menekankan keberhasilan siswa; (2) menggunakan berbagai strategi; (3) menggunakan berbagai sumber informasi, kerja lapangan, studi mandiri serta interaksi antara manusia secara optimal.
  3. Dari segi guru: (1) mempunyai pandangan yang luas mengenai sains; (2) mengajar dengan berbagai strategi baru di dalam kelas, sehingga memahami tentang kecakapan dan kematangan serta latar belakang siswa; (3) menyadarkan guru bahwa terkadang dirinya tidak selalu berfungsi sebagai sumber informasi.
  4. Dari segi evaluasi: (1) ada hubungan antara tujuan, proses dan hasil belajar; (2) perbedaan antara kecakapan dan kematangan serta latar belakang siswa juga diperhatikan; (3) kualitas, efisiensi, dan keefektivan serta fungsi program juga dievaluasi; (4) guru juga termasuk yang dievaluasi usahanya yang terus menerus membantu siswa.

Yager (Sukri, 2000) mengajukan empat tahap strategi dalam pembelajaran dengan memperhatikan konstruktivisme. Pertama, invitasi, meliputi: mengamati hal yang menarik di sekitar, mengajukan pertanyaan; Kedua, eksplorasi, meliputi: sumbang saran alternatif yang sesuai tentang informasi yang akan dicari, mengobservasi fenomena khusus, mengumpulkan data, pemecahan masalah, analisis data; Ketiga, pengajuan penjelasan dan solusi, meliputi: menyampaikan gagasan, menyusun model, membuat penjelasan baru, membuat solusi, memadukan solusi dengan teori dan pengalaman; Keempat, menentukan langkah, meliputi: membuat keputusan, menggunakan pengetahuan dan keterampilan, berbagi informasi dan gagasan, mengajukan pertanyaan lanjutan, yaitu membuat saran kegiatan positif baik individu maupun masyarakat. Hal-hal tersebut diterapkan dalam pendekatan S-T-M.

3. Pendekatan S-T-M Meningkatkan Penguasaan Konsep dan Sikap Kepedulian Siswa serta Kreatifitas Siswa
Kemampuan untuk memahami produk-produk sains dan menggunakan produk teknologi secara singkat disebut literasi sains dan teknologi. Secara harfiah literasi berarti melek, lebih luas dapat diartikan dalam memahami, mengerti , dan sadar akan keberadaan sains dan teknologi, serta sikap, apresiasi, nilai , dan estetika (Sukri, 2000).

Poedjiadi (1994) menyatakan litarasi sains dan teknologi sebagai suatu kemampuan yang dapat menyelesaikan masalah dengan konsep sains, mengenal teknologi berserta dampak yang ditimbulkannya, mampu menggunakan produk teknologi dan memeliharanya, kreatif merancang dan hasil teknologi yang sederhana, dan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai.

Collette dan Chiapetta (Sukri, 2000) mengemukakan bahwa seseorang dikatakan memiliki literasi sains apabila ia memiliki:
  1. Pengetahuan cukup tentang fakta, konsep, teori sains dan kemampuan untuk mengaplikasikannya.
  2. Pemahaman tentang sains dan hakekat sains.
  3. Sikap positif terhadap sains dan teknologi.
  4. Apresiasi terhadap nilai sains dan teknologi dalam masyarakat dan pengetahuan tentang bagaimana sains, teknologi dan masyarakat saling memepengaruhi.
  5. Kemampuan menggunakan proses sains untuk menyelesaikan maslah dan mengambil keputusan sehari-hari.
  6. Kemampuan membuat keputusan berdasarkan nilai tentang isu-isu masyarakat.
  7. Kemampuan keterampilan proses sains untuk dapat diaplikasikan dalam bekerja dan dapat berperan dalam masyarakat.
  8. Pandangan dan pemahaman yang lebih baik terhadap lingkungannya karena ada pembelajaran sains di sekolah.

Dari uraian di atas ternyata unsur teknologi sudah terkait dalam istilah literasi sains. Karakteristik seseorang literat teknologi menurut Poedjiadi (1994) antara lain: tahu menggunakan produk teknologi dan memeliharanya, sadar tentang proses teknologi dan prinsipnya, sadar tentang akibat teknologi terhadap manusia dan masyarakat, mampu mengevaluasi proses dan produk teknologi, mampu membuat hasil teknologi alternatif yang disederhanakan.

Dalam pembelajaran IPA, salah satu pendekatan yang selalu mengacu pada isu lingkungan serta dapat mengembangkan literasi sains dan teknologi dan meningkatkan sikap serta kreativitas adalah pendekatan S-T-M. Pendekatan yang dikembangkan dari teori belajar konstruktivisme yang pada pokoknya menggambarkan bahwa peserta didik membentuk dan membangun pengetahuannya melalui interaksi dengan lingkungannya (Bell dalam Sukri, 2000).

Dengan model pembelajaran S-T-M ini siswa diberi kesempatan sebanyak-banyaknya untuk memperoleh pengalaman nyata, mengembangkan gagasannya sehingga siswa diharapkan akan terbiasa sekaligus mampu membangun pengetahuannya sendiri secara aktif tentang fenomena alam yang ditemuinya dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk lebih mengaktualisasikan penggunaan pendekatan S-T-M dalam pembelajaran IPA, maka Poedjiadi (2005) menyarankan:
  1. Mula-mula guru mengemukakan isu-isu atau masalah aktual yang ada di masyarakat dan dapat diamati peserta didik. Juga bisa digali dari pendapat siswa dan dikaitkan dengan konsep yang akan dibahas, tahap ini disebut inisiasi, apersepsi, invitasi, atau eksplorasi.
  2. Melaksanakan pembelajaran dengan strategi tertentu yang sesuai dengan pedagogi (ilmu dan seni mengajar), tahap ini disebut pembentukan konsep dan menurut konstruktivisme diharapkan siswa membangun atau mengkonstruk sendiri melalui observasi, eksperimen, dan lain-lain.
  3. Konsep yang sudah dipahami digunakan untuk menyelesaikan masalah atau menganalisa isu yang telah dilontarkan diawal pembelajaran, tahap ini disebut aplikasi konsep.
  4. Guru memantapkan konsep diharapkan dapat merekonstruksi atau merestrukturisasi konsep siswa yang salah, tahap ini disebut pemantapan konsep.
  5. Tahap pelaksanaan evaluasi yang hendaknya secara berkelanjutan dan mencakup berbagai aspek (dalam hal ini termasuk sikap).

Para siswa yang talah mengalami pembelajaran sains dengan S-T-M nampak memperlihatkan domain hubungan dan aplikasi, kreatifitas, sikap, proses dan pengetahuan yang meningkat. Domain dari pengajaran sains dengan pendekatan S-T-M (Hidayat dalam Sukri) adalah:
  1. Domain hubungan dan aplikasi: (1) siswa dapat menghubungkan studi sains mereka dengan kehidupan sehari-hari; (2) siswa terlibat dalam memecahkan isu-isu sosial, mereka melihat relevansi dari studi sains mereka untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai warganegara; (3) para siswa mencari informasi dan menggunakannya; (4) para siswa turut terlibat dalam perkembangan teknologi serta menggunakannya untuk melihat kepentingan dan relevansi dari konsep-konsep sains
  2. Domain kreativitas: (1) para siswa lebih banyak bertanya, pertanyaan-pertanyaan itu digunakan untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan dan materi S-T-M; (2) para siswa sering mengajukan pertanyaan–pertanyaan yang unik yang memacu minat mereka sendiri dan guru; (3) para siswa terampil dalam mengajukan sebab dan akibat dari hasil pengamatannya; (4) nampaknya para siswa penuh dengan ide-ide murni.
  3. Domain sikap: (1) minat siswa meningkat dalam pelajaran khusus dari kelas yang satu ke kelas berikutnya; (2) para siswa lebih ingin tahu tentang segala sesuatu yang ada di dunia ini; (3) para siswa memandang guru sebagai fasilitator; (4) para siswa memandang sains sebagai cara untuk menangani masalah-masalah.
  4. Domain proses: (1) para siswa melihat proses sains sebagai keterampilan yang dapat mereka gunakan; (2) para siswa melihat proses sebagai keterampilan yang mereka butuhkan untuk menyempurnakan, mengembangkannya agar lebih mantap untuk kepentingan mereka sendiri; (3) siswa-siswa siap melihat hubungan dari proses-proses sains kepada aksi mereka sendiri; (4) para siswa melihat proses sebagai bagian yang vital dari apa yang mereka lakukan dalam pelajaran sains.
  5. Domain pengetahuan: (1) siswa melihat pengetahuan sebagia hal yang berguna bagi dirinya sendiri; (2) pengetahuan dilihat sebagai suatu komoditi yang diperlukan untuk berhubungan dengan masalah-masalah; (3) belajar terjadi karena aktifitas merupakan kejadian yang penting, dan bukan merupakan fokus dari kejadian itu sendiri; (4) siswa yang belajar dari pengalaman dapat mengendapkannya untuk waktu yang cukup lama dan sering dapat menghubungkannya kepada situasi-situasi baru.

Berdasarkan dari kelebihan-kelebihan pendekatan S-T-M ini diharapkan bila pendekatan tersebut diterapkan secara benar akan berpeluang meningkatkan literasi sains dan teknologi siswa meningkatkan kemampuan berpikir kritis, bernalar logis kreatifitas, mampu memecahkan masalah yang ada di lingkungan, dan dapat mengambil keputusan untuk masalah yang menyangkut sains, teknologi, dan masyarakat (King, -).

4. Model Pembelajaran S-T-M
Dalam tahun 1985 saat S-T-M dalam pembelajaran sains diperkenalkan di Bandung, ditekankan bahwa S-T-M pada saat itu tidak bisa dijadikan sebagai suatu mata pelajaran tersendiri karena pokok bahasan dalam pembelajaran sains sudah terlalu padat. S-T-M cukup dijadikan sebagai pendekatan saja dalam pembelajaran sains yang mengacu pada Garis-garis Besar Program Pengajaran dan dipilih melalui pokok bahasan yang sesuai saja (Poedjiadi, 2005).

Namun, S-T-M dapat saja diangkat sebagai suatu program pembelajaran atau mata pelajaran tersendiri bagi para siswa yang di Sekolah Menengah Atas sudah memilih jurusan IPS di SMA, yakni siswa kelas XI dan kelas XII, diberi mata pelajaran sains yang terkait dengan teknologi dan manfaatnya bagi masyarakat dengan nama Sains-Teknologi-Masyarakat, atau apapun namanya. Justru melalui tema-tema tertentu yang dirancang khusus dengan baik seperti dikemukakan sebelumnya, siswa dapat memperoleh perluasan wawasan dan penambahan pengetahuan tentang hubungan antara sains, teknologi dan masyarakat, yang diperlukan siswa sebagai anggota masyarakat.

Poedjiadi (2005) mengemukakan, bahwa ada pola tertentu dari langkah-langkah yang dilakukan dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan S-T-M. Misalnya, suatu hal yang tidak boleh diabaikan adalah adanya pemantapan konsep yang menuntut kejelian guru, untuk mencegah terjadinya miskonsepsi. Dengan demikian dari penjelasan di atas, maka selanjutnya pendekatan S-T-M telah dapat disebut sebagai model S-T-M.

Gambar 2. Model Pembelajaran S-T-M

Kekhasan dari model ini adalah pada pendahuluan dikemukakan isu-isu atau masalah yang ada di masyarakat yang dapat digali dari siswa, tetapi apabila guru tidak berhasil memperoleh tanggapan dari siswa dapat saja dikemukakan oleh guru sendiri. Tahap ini dapat disebut dengan inisiasi atau mengawali, memulai, dan dapat pula disebut dengan invitasi yaitu undangan agar siswa memusatkan perhatian pada pembelajaran. Apersepsi dalam kehidupan juga dapat dilakukan, yaitu mengaitkan peristiwa yang telah diketahui siswa dengan materi yang akan dibahas, sehingga tampak adanya kesinambungan pengetahuan, karena diawali dengan hal-hal yang tidak diketahui siswa sebelumnya yang ditekankan pada keadaan yang ditemui dalam keadaan sehari-hari. Pada dasarnya apersepsi merupakan proses asosiasi ide baru dengan yang sudah dimiliki sebelumnya oleh seseorang.

Gilberti (-) mengemukakan contoh isu atau masalah yang ada di masyarakat dan berkaitan dengan sains dan teknologi berikut ini.
a. Penipisan ozon karena pemanasan global
b. Penanganan pencemaran air.
c. Sampah yang membahayakan pertumbuhan populasi.
d. Tenaga nuklir dan pembangkit listrik tenaga nuklir.
e. Sistem teknologi transportasi.

Pada pendahuluan ini guru juga dapat melakukan eksplorasi terhadap siswa melalui pemberian tugas untuk melakukan kegiatan di lapangan atau di luar kelas secara berkelompok. Kegiatan mengunjungi dan mengobervasi keadaan di luar kelas itu bertujuan untuk mengaitkan antara konsep-konsep atau teori yang dibahas di kelas dengan keadaan nyata yang ada di lapangan. Dengan mendiskusikan temuan mereka, merencanakan tindakan selanjutnya, terjadilah kolaborasi dan koordinasi dalam kelompok, dan tercipta suatu dinamika kelompok, yang bermanfaat diterima kelompok dan direncanakan untuk dilakukan, merupakan kebanggaan tersendiri sehingga orang tersebut merasa dihargai, yang pada gilirannya akan mau berpikir terus untuk kebaikan dan penghargaan kelompok lain terhadap kelompoknya.

Isu yang mengundang pro dan kontra mengharuskan siswa berpikir untuk menganalisis isu tersebut. Dengan demikian ada interaksi antara guru dengan siswa atau antarsiswa. Proses interaksi ini menuntut seseorang untuk berpikir tentang ide-ide dan analisis yang akan dikemukakan atau cara mempertahankan pandangan tentang isu-isu tersebut. Apabila masalah yang dikemukakan atau ditemukan itu berasal dari guru, siswa tetap juga harus berpikir tentang penyelesaian masalah yang direncanakan meskipun konsep-konsep sebagai produk pengetahuan untuk menyelesaikan masalah belum diketahui karena belum dilaksanakan pembentukan konsep.

Proses pembentukan konsep (tahap 2) dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan dan metode. Misalnya pendekatan keterampilan proses, metode eksperimen, diskusi kelompok, dan lain-lain.

Pada akhir pembentukan konsep diharapkan siswa telah dapat memahami apakah analisis terhadap isu-isu atau penyelesaian terhadap masalah yang dikemukakan di awal pembelajaran telah menggunakan konsep-konsep yang diikuti oleh para ilmuwan. Dengan demikian siswa yang memiliki prakonsepsi yang berbeda dengan konsep-konsep para ilmuwan, seringkali merasa bahwa konsep yang dimiliki sebelumnya ternyata tidak dapat atau kurang tepat untuk menyelesaikan masalah yang ia hadapi. Siswa dapat mengalami konflik kognitif lebih dahulu apabila konsep yang digunakan untuk menyelesaikan masalah atau menganalisis isu dirasakan tidak benar. Semua kemampuan mental kita yaitu mengingat, memahami dan lain-lain terorganisasi dalam suatu sistem yang kompleks yang secara keseluruhan disebut dengan kognisi.

Dalam hubungan sosial, seseorang dapat pula mengalami konflik kognitif apabila pandangan atau penyelesaian masalah yang telah direncanakan tidak sesuai dengan pandangan orang lain atau kebanyakan orang. Namun setelah berdiskusi, ia kemudian menyadari dan mengambil keputusan bahwa pandangannya perlu diubah.

Selanjutnya berbekal pemahaman konsep yang benar, siswa melakukan analisis isu atau penyelesaian masalah yang disebut aplikasi konsep dalam kehidupan (tahap 3). Adapun konsep-konsep yang telah dipahami siswa dapat diaplikasikan dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Selama proses pembentukan konsep, penyelesaian masalah dan/atau analisis isu (tahap 2 dan tahap 3) guru perlu meluruskan jika ada miskonsepsi selama kegiatan belajar berlangsung. Kegiatan ini disebut pemantapan konsep. Apabila selama proses pembentukan konsep tidak tampak ada miskonsepsi yang terjadi pada siswa, demikian pula setelah akhir analisis isu dan penyelesaian masalah, guru tetap perlu melakukan pemantapan konsep sebagaimana tampak pada alur pembelajaran (tahap 4) melalui penekanan pada konsep-konsep kunci yang penting diketahui dalam bahan kajian tertentu.

Contoh RPP dan LKS berbasis S-T-M dapat diunduh pada artikel ini.


DAFTAR PUSTAKA

Galib, La Maronta. (2001). Penerapan Model Konstruktif Pembelajaran Sains dan Teknologi dengan Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat dan Strategi Pembelajaran Modul di Sekolah Dasar Kecil Negeri Bungin. Disertasi Doktoral Program Studi Pendidikan IPA PPS UPI: tidak diterbitkan.

Gilberti, Anthony F. (-). The Science/Technology/Society Approach. [Online]. Tersedia: http://isu.indstate.edu/gilberti/greece/sts.html. [6 April 2007]
King, Kenneth P. (-). Examination of the Science-Technology-Society Approach to the Curriculum. [Online]. Tersedia: www.cedu.niu.edu/scied/courses/common_files/sts_overview.pdf . [6 April 2007]


Poedjiadi, Anna. (1987). Sejarah dan Filsafat Sains. Bandung: Yayasan Cendrawasih.


. (1994). “Pendekatan Sains-Teknologi-Masyarakta dalam Pendidikan Sebagai Upaya Meningkatkan Literasi Sains dan Teknologi”. Makalah pada Seminar Nasional Hasil Penelitian Pendidikan MIPA ke III tanggal 25-27 Juli 2004, Ujung Pandang.


(2005). Sains Teknologi Masyarakat Model Pembelajaran Kontekstual Bermuatan Nilai. Bandung: Rosdakarya


Sukri. (2000). Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat dalam Pembelajaran Biologi (Studi Kuasi Eksperimen Topik Penggunaan dan Pelestarian Keanekaragaman Hayati di Kelas I MAN Malang). Tesis Magister Program Studi Pendidikan IPA PPS UPI: tidak diterbitkan


Toharudin, Uus. (2007, 5 Januari). Sains Dalam Pembelajaran di Sekolah. Pikiran rakyat [Online], halaman -. Tersedia:
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/012007/05/wacana.htm. [6 April 2007]


10 komentar:

ainul mengatakan...

wah,,, komplit baget pembahasannya,
kak untuk referensiy k3 liat dimana? boleh dbagi nggak k

Gita Nurul Puspita mengatakan...

boleh, silakan :)

Anonim mengatakan...

Qalbi:

asslm,,, izin memakai tulisannya yah kk,,, :)

makasi...

Anonim mengatakan...

PENELITIAN STM INI TERMASUK PTK YA KAK................

Gita Nurul Puspita mengatakan...

@ Qalbi: Silakan, semoga bermanfaat :)
@ Anonim: Tulisan ini hanya tulisan dekskriptif tentang pendekatan STM. Tapi model pembelajaran STM atau pendekatan STM dapat digunakan dalam PTK.

Anonim mengatakan...

assalmualaikum mbak,saya tertarik untu meneliti STM ini untuk tesis saya tapi saya sulit sekali mencari buku yang berhubungan dengan STM,dimana ya mbak saya mencari buku yang melandasi STM tsb.mks mbak

Yani Suryani, A.KS.,S.Pd mengatakan...

Ass..salam kenal, mohon izin untuk mengcopy tulisannya sebagai referensi...
Trims

Gita Nurul Puspita mengatakan...

@anonim: Waal ww. Buku Prof. Anna Poedjiadi sangat lengkap membahas Pendekatan S-T-M. Kalau Anda berdomisili di Bandung dapat membeli bukunya di Pasar Buku Palasari.

Gita Nurul Puspita mengatakan...

@ Yani Suryani: Waal ww. Salam kenal. Silakan bu, hanya saja mohon cantumkan sumber referensinya. Terima kasih atas apresiasinya.

dewi mengatakan...

mbak Gita, boleh tanya. contohnya yang karakteristik STM pada poin penekanan kesadaran karir dan identifikasi masalah lokal bagi siswa
makasih mbaakkkk