Selasa, Desember 21, 2010

Materi Pengayaan Fotosintesis

Materi ini ditujukan bagi siswa yang sudah memperoleh nilai di atas KKM (lebih dari 70) pada ulangan Fotosintesis. Ibu sengaja menugaskan kalian untuk lebih mendalami materi Fotosintesis seperti siswa SMA agar saat di SMA nanti kalian memiliki dasar pengetahuan yang baik. Silakan kalian mengunduh (mendownload) materinya di sini atau di sini. Setelah kalian mendownload file ini laporkan bahwa kalian sudah melakukannya dengan menuliskannya di KOMENTAR yang tulisannya ada di bawah artikel ini sehingga ibu bisa memberi tambahan nilai bagi kalian. Bagi yang telah mempelajari materi di file ini dan mempunyai pertanyaan, tuliskan pertanyaannya di KOMENTAR, kita akan diskusikan di forum ini. Selamat belajar. Chaiyo!

Selasa, Desember 14, 2010

Materi Sistem Gerak pada Manusia

Untuk siswa kelas VIII-9 dan VIII-10 yang ingin memperoleh materi pelajaran Sistem Gerak Manusia, baik berupa slide PowerPoint maupun videonya silakan untuk mengunduh (mendownload). Video yang kalian saksikan bersumber dari Youtube sedangkan foto/gambar bersumber dari Google.

Minggu, Desember 12, 2010

Materi Pembelajaran Sistem Pencernaan pada Manusia

Materi ini merupakan bentuk ringkasan tertulis dari Program Mulitmedia Interaktif Penggunaan Bahan Kimia dalam Makanan yang dikembangkan oleh R. Lies Retmana dari Sekolah Pascasarjana UPI dalam rangka penelitian tesis untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan Program Magister Pendidikan IPA. Silakan siswa kelas VIII-9 dan VIII-10 mengunduh (mendownload) filenya di sini atau di sini.

Sabtu, Desember 11, 2010

Pendekatan Sains-Teknologi-Masyarakat (S-T-M)

Makalah Pendidikan Disampaikan dalam Perkuliahan Pengembangan Bahan Ajar Biologi Sekolah Lanjutan di Sekolah Pascasarjana UPI Tahun 2007


ABSTRAK

Penemuan teknologi membawa dampak pada lahirnya konsep, teori, serta hukum sains. Begitupula konsep sains, teori serta hukum yang dikemukakan oleh ilmuwan membawa dampak pada penemuan teknologi. Sains Teknologi Masyarakat adalah untuk menyediakan siswa koneksi yang nyata dengan kelas dan masyarakat sehingga tepat untuk mempersiapkan peserta didik ketika berhadapan dengan berbagai perkembangan sains dan teknologi di lingkungannya. Program S-T-M memiliki karakteristika yaitu, identifikasi masalah-masalah setempat/lokal yang memiliki kepentingan dan dampak, penggunaan sumber daya setempat/lokal (manusia dan benda) untuk mencari informasi yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah, keikutsertaan yang aktif dari siswa dalam mencari informasi yang dapat diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari, penambahan/perpanjangan belajar di luar kelas dan sekolah, fokus kepada dampak dari sains dan teknologi terhadap siswa, suatu pandangan bahwa konten sains bukan hanya konsep-konsep yang harus dikuasai siswa dalam tes, penekanan dalam keterampilan proses dimana siswa dapat menggunakannya dalam memecahkan masalah, penekanan pada kesadaran karir yang berkaitan dengan sains dan teknologi, kesempatan bagi siswa untuk mencoba berperan sebagai warga negara atau anggota masyarakat dimana ia mencoba untuk memecahkan isu-isu yang telah diidentifikasi, identifikasi dampak sains dan teknologi di masa depan, kebebasan atau otonomi dalam proses belajar. Untuk lebih mengaktualisasikan penggunaan pendekatan S-T-M dalam pembelajaran IPA, maka dilaksanakan dalam tahapan-tahapan, dimulai dengan tahap inisiasi, tahap pembentukan konsep, tahap aplikasi konsep, tahap pemantapan konsep, tahap pelaksanaan evaluasi.


A. PENDAHULUAN
Dewasa ini, kata pengetahuan dan teknologi begitu familiar dalam kehidupan sehari-hari sehingga memunculkan akronim IPTEK dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan sains merupakan kata serapan dari bahasa Inggris, science. Dari segi etimologi, science berasal dari kata scientia, yang mengandung arti pengetahuan (Poedjiadi, 1987). Menurut filsafat ilmu, pengetahuan yang terkoordinasi, terstruktur dan sistematik disebut ilmu. Pengertian sains dibatasi hanya pada pengetahuan yang positif, artinya yang hanya dapat dijangkau oleh panca indera kita (Poedjiadi, 2005). Pada mulanya ilmu hanya berkaitan dengan alam, namun dalam pemaparan selanjutnya akan dikemukakan bahwa ilmu dalam perkembangannya juga berkaitan dengan masyarakat.

Hampir setiap segi kehidupan kita terkait dengan teknologi. Sejak bangun tidur di pagi hari kita melihat jam dinding untuk mengetahui waktu dengan tepat agar kita tidak terlambat melakukan kegiatan yang telah dijadwalkan. Jam dinding, pakaian, alat transportasi adalah hasil kegiatan manusia yang ditujukan untuk mempermudah kita dalam melakukan tugas sehari-hari. Teknologi lahir karena adanya kebutuhan manusia. Dengan kata lain, kegiatan teknologi bermula dari adanya masalah-masalah yang sedang dihadapi manusia dalam beradaptasi dengan lingkungan dan alamnya. Di lain pihak, sains berawal dari adanya sifat ingin tahu manusia dengan pengajuan pertanyaan-pertanyaan tentang dunia kealaman (natural world). (Poedjiadi, 2005; Trowbridge & Bybee dan Yager dalam Toharudin, 2007).

Penelitian tentang struktur membran yang dilakukan menggunakan mikroskop elektron telah dapat menjelaskan senyawa-senyawa kimia penyusun membran sel. Penggunaan mikroskop elektron mampu membantu penyelidikan terhadap bakteri dan virus yang berukuran mikro. Hal ini tentu pada mulanya didorong oleh adanya kebutuhan manusia terhadap suatu instrumen yang dapat mempermudah pengamatan jasad-jasad renik. Setelah tahun 1950, mikroskop elektron merupakan salah satu alat yang paling penting bagi kemajuan dan perkembangan biologi.

Contoh tersebut menunjukkan kepada kita bahwa penemuan teknologi membawa dampak pada lahirnya konsep, teori, serta hukum sains. Begitupula bahwa konsep sains, teori serta hukum yang dikemukakan oleh ilmuwan membawa dampak pada penemuan teknologi (Poedjiadi, 2005). Penemuan teknologi ini berwujud terciptanya alat-alat baru maupun penyempurnaan alat-alat lama. Penemuan maupun penyempurnaan alat ini berdampak pula bagi penemuan dan pengembangan sains. Dengan demikian, kaitan antara sains dan teknologi merupakan hubungan timbal balik yang saling menguntungkan.

Teknologi lahir tentunya disebabkan adanya kebutuhan masyarakat. Namun penggunaan produk teknologi sangat memerlukan kesiapan masyarakat sebagai pengguna produk tersebut. Apabila masyarakat pengguna kurang siap, maka kegunaan atau manfaat produk teknologi kurang optimal. Hal ini berarti tujuan diciptakannya produk teknologi tersebut tidak tercapai. Kesiapan yang harus dimiliki oleh pengguna suatu produk teknologi adalah kesiapan mental untuk tidak menggunakan produk teknologi untuk tujuan yang dampaknya merugikan orang atau masyarakat. Sains merupakan komponen krusial yang dapat membantu kesiapan pengetahuan masyarakat tentang produk teknologi. Di samping itu, sains juga dapat berperan dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penggunaan sumber daya alam atau meningkatkan pemahaman masyarakat tentang gejala alam dalam kehidupan sehari-hari (Poedjiadi, 2005).


B. SAINS-TEKNOLOGI-MASYARAKAT
1. Sejarah Perkembangan S-T-M

Sains Teknologi Masyarakat (S-T-M) merupakan alihan dari Science Technology Society (S-T-S). Ide dibalik program STS adalah untuk menyediakan siswa koneksi yang nyata dengan kelas dan masyarakat (King, -). S-T-S telah menjadi gerakan pendidikan sains di Amerika Serikat sebagai respon terhadap kondisi dan situasi pendidikan sains pada saat itu yang kurang optimal dalam mempersiapkan peserta didik untuk berhadapan dengan berbagai perkembangan sains dan teknologi di lingkungannya.

Istilah S-T-S untuk pertama kali diciptakan oleh John Ziman dalam bukunya “Teaching and Learning About Science and Society”. Ziman mencoba mengungkapkan bahwa konsep-konsep dan proses-proses sains yang diajarkan seharusnya relevan dengan kehidupan siswa sehari-hari (Galib, 2001).

The National Science Teachers Association (NSTA), mendefinisikan S-T-M sebagai belajar dan mengajar sains dalam konteks pengalaman manusia. Yager et.al (Sukri, 2000), mendefinisikan S-T-M mencakup tujuan, kurikulum, asessmen dan khususnya mengenai pengajaran. Dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh para tokoh, pada prinsipnya yang menjadi dasar apa yang dilakukan oleh program S-T-M adalah menghasilkan warga negara yang memiliki pengetahuan yang cakap sehingga mampu membuat keputusan-keputusan yang krusial (kreatif dan strategis) tentang masalah dan isu-isu mutakhir dan mengambil tindakan sesuai dengan keputusan yang dibuatnya tersebut (Gilberti, -).

Yager dan Roy (Galib, 2001) menyatakan sejarah singkat S-T-S sebagai berikut. Mulai tahun 1970, beberapa universitas di AS, --- Cornell, Penn State, Stanford, dan SUNY-Stock Brook --- secara resmi memulai program yang menawarkan pelajaran pada bidang studi yang sekarang disebut STS/S-T-M. Hal yang sama juga dilakukan konsorsium universitas di Inggris. Kemudian secara berangsur beberapa negara dan lembaga lain bekerja sama, menjadi penelitian utama universitas, dan sekitar 100 lembaga menjadikan S-T-M sebagai bidang akademik. Sebagai suatu momentum perkembangan S-T-M, pada tahun 1977 muncul sebuah proyek yang disebut Norris Harms’ Project Synthesis dengan empat tujuan utama, yaitu: (1) mempersiapkan siswa untuk menggunakan sains bagi pengembangan hidup dan mengikuti perkembangan dunia teknologi; (2) mengajar para siswa untuk mengambil tanggung jawab dengan isu-isu teknologi/masyarakat; (3) mengidentifikasi tubuh pengetahuan fundamental sehingga siswa secara tuntas memperoleh kepandaian dengan isu-isu S-T-M; dan (4) memberikan suatu gambaran yang akurat kepada siswa tentang peersyaratan dan kesempatan dalam karir yang tersedia dalam bidang S-T-M.

Setelah proyek tersebut dilaporkan pada tahun 1981 (Harms dan Yager dalam Galib, 2001), NSTA berinisiatif melakukan suatu penelitian untuk meningkatkan mutu program pendidikan sains. Dalam hal itu, S-T-M merupakan salah satu bidang penelitian awal pada tahun 1982-1983 dan juga tahun 1986. Sejak itu, secara nasional merupakan upaya awal, S-T-M menjadi fokus bagi sekolah sains--- adalah suatu bidang untuk mengidentifikasi tujuan-tujuan baru, kurikulum baru, modul-modul, strategi pembelajaran yang baru, dan bentuk-bentuk baru untuk evaluasi. Hal itu telah digunakan dalam pembaruan pendidikan sains di Iowa sejak dimulai suatu program Chautauqua NSTA-NSF pada tahun 1983 (Yager dalam King, -). Dan sekarang, sudah lebih dari 1.700 guru, khususnya pada kelas 4-9 telah mengembangkan dan memperkenalkan modul-modul S-T-M dalam ruang kelas sains mereka. Dalam tahun 1990 di AS, S-T-M telah diperkenalkan pada 2000 fakultas dan 1000 SLTA dalam bentuk pelajaran (Harms dan Yager dalam Galib, 2001).

Program S-T-M memiliki 11 karakteristik (Yager dalam Sukri, 2000) :
  1. Identifikasi masalah-masalah setempat/lokal yang memiliki kepentingan dan dampak.
  2. Penggunaan sumber daya setempat/lokal (manusia dan benda) untuk mencari informasi yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah.
  3. Keikutsertaan yang aktif dari siswa dalam mencari informasi yang dapat diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Penambahan/perpanjangan belajar di luar kelas dan sekolah.
  5. Fokus kepada dampak dari sains dan teknologi terhadap siswa.
  6. Suatu pandangan bahwa konten sains bukan hanya konsep-konsep yang harus dikuasai siswa dalam tes.
  7. Penekanan dalam keterampilan proses dimana siswa dapat menggunakannya dalam memecahkan masalah.
  8. Penekanan pada kesadaran karir yang berkaitan dengan sains dan teknologi.
  9. Kesempatan bagi siswa untuk mencoba berperan sebagai warga negara atau anggota masyarakat dimana ia mencoba untuk memecahkan isu-isu yang telah diidentifikasi
  10. Identifikasi dampak sains dan teknologi di masa depan.
  11. Kebebasan atau otonomi dalam proses belajar.
S-T-M menyediakan arahan-arahan untuk mencapai literasi sains dan teknologi untuk semua orang dan S-T-M sebagai perekat yang mempersatukan sains/IPA, teknologi, dan masyarakat secara bersama-sama (Hidayat dalam Sukri, 2000).

2. Teori Belajar Konstruktivisme Mendasari Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (S-T-M)
Teori belajar sebagai dasar bagaimana terjadinya belajar atau bagaimana informasi diperoleh siswa dan bagaimana informasi diproses di dalam pikiran siswa itu harus dipahami dan diterima secara benar oleh seorang guru. Berlandaskan suatu teori belajar, diharapkan suatu pembelajaran dapat lebih meningkatkan perolehan siswa sebagai hasil belajar.

Gagne (Sukri, 2000) menyatakan untuk terjadi belajar pada diri siswa diperlukan kondisi belajar, baik kondisi internal maupun eksternal. Kondisi internal merupakan peningkatan (arising) memori siswa sebagai hasil belajar terdahulu. Memori siswa yang terdahulu merupakan komponen kemampuan yang baru, dan ditempatkannya bersama-sama. Kondisi eksternal meliputi aspek atau benda yang dirancang atau ditata dalam suatu pembelajaran. Sebagai hasil belajar (learning outcomes), Gagne menyatakannya dalam lima kelompok, yaitu intelectual skill, cognitive strategy, verbal information, motor skill, dan attitude.

Gagne menekankan pentingnya kondisi internal dan kondisi eksternal dalam suatu pembelajaran, agar siswa memperoleh hasil belajar yang diharapkan. Dengan demikian, sebaiknya guru memperhatikan atau menata pembelajaran yang memungkinkan mengaktifkan memori siswa yang sesuai agar informasi yang baru dapat dipahaminya. Kondisi eksternal bertujuan antara lain merangsang ingatan siswa, penginformasian tujuan pembelajaran, membimbing siswa mempelajari materi yang baru, memberikan kesempatan pada siswa menghubungkan dengan informasi yang baru.

Menurut Yager (Sukri, 2000), pendekatan S-T-M sejalan dengan pelaksanaan konstruktivisme dalam pembelajaran. Menerapkan konstruktivisme dalam pembelajaran, berarti menempatkan siswa pada posisi sentral dalam keseluruhan program pengajaran. Pertanyaan yang muncul digunakan sebagai dasar diskusi, investigasi, dan kegiatan kelas/laboratorium. Pendekatan S-T-M sangat memperhatikan hal-hal tersebut, bahkan memberikan kesempatan kepada siswa sebagai pengambil keputusan, di samping kesadaran pada pengembangan karir.

Secara konseptual, pendekatan S-T-M dapat dikaitkan dengan asumsi bahwa sains dan teknologi memiliki keterkaitan timbal balik, saling mengisi, saling tergantung, dan saling mempengaruhi dalam mempertemukan antara permintaan dan kebutuhan manusia serta membuat kehidupan masyarakat lebih baik dan mudah.

Selanjutnya Hungerford, Volk & Ramsey (Galib, 2001) menggambarkan keterkaitan sains, teknologi, dan masyarakat dalam suatu paradigma interaksi seperti terlihat pada gambar berikut.
Gambar 1. Interaksi Sains-Teknologi-Masyarakat

Gambar di atas menunjukkan bahwa sains-teknologi-masyarakat sangat erat keterkaitannya. Dalam hal itu, Dimyati (Galib, 2001) menyatakan bahwa teknologi dan sains tidak pernah terpisah. Karena itu, menurut Hoolbrool, memahami sains hanya sebagai suatu kesatuan konsep-konsep atau prinsip-prinsip, berarti memisahkan sains dari teknologi, dan sains hanya dipandang sebagai ilmu murni ketimbang sebagai mata pelajaran yang dapat diterapkan. Pernyataan tersebut mengandung suatu makna bahwa siswa yang telah belajar konsep-konsep sains perlu didorong untuk menggunakan/menerapkannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, misalnya untuk menghasilkan teknologi dan menjelaskan fenomena/peristiwa-peristiwa alam yang dijumpai.

Pendekatan S-T-M merupakan salah satu alternatif untuk memecahkan permasalahan seperti yang dihadapi dunia pendidikan saat ini. Pendekatan yang menampilkan peranan sains dan teknologi di dalam kehidupan masyarakat karena pendidikan sains dengan pendekatan S-T-M akan memberikan keuntungan kepada para siswa yang ingin meningkatkan literasi sains, perhatian terhadap sains dan teknologi serta perhatian terhadap interaksi antara sains, teknologi dan masyarakat. Keunggulan pendekatan S-T-M ditinjau dari beberapa segi (Wahyudi et. al dalam Sukri, 2000):
  1. Dari segi tujuan: (1) meningkatkan keterampilan proses sains, keterampilan inkuiri dan pemecahan masalah; (2) menekankan cara belajar yang baik yang mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotorik; (3) menekankan sains dalam keterpaduan inter dan intra bidang studi.
  2. Dari segi pembelajaran: (1) menekankan keberhasilan siswa; (2) menggunakan berbagai strategi; (3) menggunakan berbagai sumber informasi, kerja lapangan, studi mandiri serta interaksi antara manusia secara optimal.
  3. Dari segi guru: (1) mempunyai pandangan yang luas mengenai sains; (2) mengajar dengan berbagai strategi baru di dalam kelas, sehingga memahami tentang kecakapan dan kematangan serta latar belakang siswa; (3) menyadarkan guru bahwa terkadang dirinya tidak selalu berfungsi sebagai sumber informasi.
  4. Dari segi evaluasi: (1) ada hubungan antara tujuan, proses dan hasil belajar; (2) perbedaan antara kecakapan dan kematangan serta latar belakang siswa juga diperhatikan; (3) kualitas, efisiensi, dan keefektivan serta fungsi program juga dievaluasi; (4) guru juga termasuk yang dievaluasi usahanya yang terus menerus membantu siswa.

Yager (Sukri, 2000) mengajukan empat tahap strategi dalam pembelajaran dengan memperhatikan konstruktivisme. Pertama, invitasi, meliputi: mengamati hal yang menarik di sekitar, mengajukan pertanyaan; Kedua, eksplorasi, meliputi: sumbang saran alternatif yang sesuai tentang informasi yang akan dicari, mengobservasi fenomena khusus, mengumpulkan data, pemecahan masalah, analisis data; Ketiga, pengajuan penjelasan dan solusi, meliputi: menyampaikan gagasan, menyusun model, membuat penjelasan baru, membuat solusi, memadukan solusi dengan teori dan pengalaman; Keempat, menentukan langkah, meliputi: membuat keputusan, menggunakan pengetahuan dan keterampilan, berbagi informasi dan gagasan, mengajukan pertanyaan lanjutan, yaitu membuat saran kegiatan positif baik individu maupun masyarakat. Hal-hal tersebut diterapkan dalam pendekatan S-T-M.

3. Pendekatan S-T-M Meningkatkan Penguasaan Konsep dan Sikap Kepedulian Siswa serta Kreatifitas Siswa
Kemampuan untuk memahami produk-produk sains dan menggunakan produk teknologi secara singkat disebut literasi sains dan teknologi. Secara harfiah literasi berarti melek, lebih luas dapat diartikan dalam memahami, mengerti , dan sadar akan keberadaan sains dan teknologi, serta sikap, apresiasi, nilai , dan estetika (Sukri, 2000).

Poedjiadi (1994) menyatakan litarasi sains dan teknologi sebagai suatu kemampuan yang dapat menyelesaikan masalah dengan konsep sains, mengenal teknologi berserta dampak yang ditimbulkannya, mampu menggunakan produk teknologi dan memeliharanya, kreatif merancang dan hasil teknologi yang sederhana, dan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai.

Collette dan Chiapetta (Sukri, 2000) mengemukakan bahwa seseorang dikatakan memiliki literasi sains apabila ia memiliki:
  1. Pengetahuan cukup tentang fakta, konsep, teori sains dan kemampuan untuk mengaplikasikannya.
  2. Pemahaman tentang sains dan hakekat sains.
  3. Sikap positif terhadap sains dan teknologi.
  4. Apresiasi terhadap nilai sains dan teknologi dalam masyarakat dan pengetahuan tentang bagaimana sains, teknologi dan masyarakat saling memepengaruhi.
  5. Kemampuan menggunakan proses sains untuk menyelesaikan maslah dan mengambil keputusan sehari-hari.
  6. Kemampuan membuat keputusan berdasarkan nilai tentang isu-isu masyarakat.
  7. Kemampuan keterampilan proses sains untuk dapat diaplikasikan dalam bekerja dan dapat berperan dalam masyarakat.
  8. Pandangan dan pemahaman yang lebih baik terhadap lingkungannya karena ada pembelajaran sains di sekolah.

Dari uraian di atas ternyata unsur teknologi sudah terkait dalam istilah literasi sains. Karakteristik seseorang literat teknologi menurut Poedjiadi (1994) antara lain: tahu menggunakan produk teknologi dan memeliharanya, sadar tentang proses teknologi dan prinsipnya, sadar tentang akibat teknologi terhadap manusia dan masyarakat, mampu mengevaluasi proses dan produk teknologi, mampu membuat hasil teknologi alternatif yang disederhanakan.

Dalam pembelajaran IPA, salah satu pendekatan yang selalu mengacu pada isu lingkungan serta dapat mengembangkan literasi sains dan teknologi dan meningkatkan sikap serta kreativitas adalah pendekatan S-T-M. Pendekatan yang dikembangkan dari teori belajar konstruktivisme yang pada pokoknya menggambarkan bahwa peserta didik membentuk dan membangun pengetahuannya melalui interaksi dengan lingkungannya (Bell dalam Sukri, 2000).

Dengan model pembelajaran S-T-M ini siswa diberi kesempatan sebanyak-banyaknya untuk memperoleh pengalaman nyata, mengembangkan gagasannya sehingga siswa diharapkan akan terbiasa sekaligus mampu membangun pengetahuannya sendiri secara aktif tentang fenomena alam yang ditemuinya dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk lebih mengaktualisasikan penggunaan pendekatan S-T-M dalam pembelajaran IPA, maka Poedjiadi (2005) menyarankan:
  1. Mula-mula guru mengemukakan isu-isu atau masalah aktual yang ada di masyarakat dan dapat diamati peserta didik. Juga bisa digali dari pendapat siswa dan dikaitkan dengan konsep yang akan dibahas, tahap ini disebut inisiasi, apersepsi, invitasi, atau eksplorasi.
  2. Melaksanakan pembelajaran dengan strategi tertentu yang sesuai dengan pedagogi (ilmu dan seni mengajar), tahap ini disebut pembentukan konsep dan menurut konstruktivisme diharapkan siswa membangun atau mengkonstruk sendiri melalui observasi, eksperimen, dan lain-lain.
  3. Konsep yang sudah dipahami digunakan untuk menyelesaikan masalah atau menganalisa isu yang telah dilontarkan diawal pembelajaran, tahap ini disebut aplikasi konsep.
  4. Guru memantapkan konsep diharapkan dapat merekonstruksi atau merestrukturisasi konsep siswa yang salah, tahap ini disebut pemantapan konsep.
  5. Tahap pelaksanaan evaluasi yang hendaknya secara berkelanjutan dan mencakup berbagai aspek (dalam hal ini termasuk sikap).

Para siswa yang talah mengalami pembelajaran sains dengan S-T-M nampak memperlihatkan domain hubungan dan aplikasi, kreatifitas, sikap, proses dan pengetahuan yang meningkat. Domain dari pengajaran sains dengan pendekatan S-T-M (Hidayat dalam Sukri) adalah:
  1. Domain hubungan dan aplikasi: (1) siswa dapat menghubungkan studi sains mereka dengan kehidupan sehari-hari; (2) siswa terlibat dalam memecahkan isu-isu sosial, mereka melihat relevansi dari studi sains mereka untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai warganegara; (3) para siswa mencari informasi dan menggunakannya; (4) para siswa turut terlibat dalam perkembangan teknologi serta menggunakannya untuk melihat kepentingan dan relevansi dari konsep-konsep sains
  2. Domain kreativitas: (1) para siswa lebih banyak bertanya, pertanyaan-pertanyaan itu digunakan untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan dan materi S-T-M; (2) para siswa sering mengajukan pertanyaan–pertanyaan yang unik yang memacu minat mereka sendiri dan guru; (3) para siswa terampil dalam mengajukan sebab dan akibat dari hasil pengamatannya; (4) nampaknya para siswa penuh dengan ide-ide murni.
  3. Domain sikap: (1) minat siswa meningkat dalam pelajaran khusus dari kelas yang satu ke kelas berikutnya; (2) para siswa lebih ingin tahu tentang segala sesuatu yang ada di dunia ini; (3) para siswa memandang guru sebagai fasilitator; (4) para siswa memandang sains sebagai cara untuk menangani masalah-masalah.
  4. Domain proses: (1) para siswa melihat proses sains sebagai keterampilan yang dapat mereka gunakan; (2) para siswa melihat proses sebagai keterampilan yang mereka butuhkan untuk menyempurnakan, mengembangkannya agar lebih mantap untuk kepentingan mereka sendiri; (3) siswa-siswa siap melihat hubungan dari proses-proses sains kepada aksi mereka sendiri; (4) para siswa melihat proses sebagai bagian yang vital dari apa yang mereka lakukan dalam pelajaran sains.
  5. Domain pengetahuan: (1) siswa melihat pengetahuan sebagia hal yang berguna bagi dirinya sendiri; (2) pengetahuan dilihat sebagai suatu komoditi yang diperlukan untuk berhubungan dengan masalah-masalah; (3) belajar terjadi karena aktifitas merupakan kejadian yang penting, dan bukan merupakan fokus dari kejadian itu sendiri; (4) siswa yang belajar dari pengalaman dapat mengendapkannya untuk waktu yang cukup lama dan sering dapat menghubungkannya kepada situasi-situasi baru.

Berdasarkan dari kelebihan-kelebihan pendekatan S-T-M ini diharapkan bila pendekatan tersebut diterapkan secara benar akan berpeluang meningkatkan literasi sains dan teknologi siswa meningkatkan kemampuan berpikir kritis, bernalar logis kreatifitas, mampu memecahkan masalah yang ada di lingkungan, dan dapat mengambil keputusan untuk masalah yang menyangkut sains, teknologi, dan masyarakat (King, -).

4. Model Pembelajaran S-T-M
Dalam tahun 1985 saat S-T-M dalam pembelajaran sains diperkenalkan di Bandung, ditekankan bahwa S-T-M pada saat itu tidak bisa dijadikan sebagai suatu mata pelajaran tersendiri karena pokok bahasan dalam pembelajaran sains sudah terlalu padat. S-T-M cukup dijadikan sebagai pendekatan saja dalam pembelajaran sains yang mengacu pada Garis-garis Besar Program Pengajaran dan dipilih melalui pokok bahasan yang sesuai saja (Poedjiadi, 2005).

Namun, S-T-M dapat saja diangkat sebagai suatu program pembelajaran atau mata pelajaran tersendiri bagi para siswa yang di Sekolah Menengah Atas sudah memilih jurusan IPS di SMA, yakni siswa kelas XI dan kelas XII, diberi mata pelajaran sains yang terkait dengan teknologi dan manfaatnya bagi masyarakat dengan nama Sains-Teknologi-Masyarakat, atau apapun namanya. Justru melalui tema-tema tertentu yang dirancang khusus dengan baik seperti dikemukakan sebelumnya, siswa dapat memperoleh perluasan wawasan dan penambahan pengetahuan tentang hubungan antara sains, teknologi dan masyarakat, yang diperlukan siswa sebagai anggota masyarakat.

Poedjiadi (2005) mengemukakan, bahwa ada pola tertentu dari langkah-langkah yang dilakukan dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan S-T-M. Misalnya, suatu hal yang tidak boleh diabaikan adalah adanya pemantapan konsep yang menuntut kejelian guru, untuk mencegah terjadinya miskonsepsi. Dengan demikian dari penjelasan di atas, maka selanjutnya pendekatan S-T-M telah dapat disebut sebagai model S-T-M.

Gambar 2. Model Pembelajaran S-T-M

Kekhasan dari model ini adalah pada pendahuluan dikemukakan isu-isu atau masalah yang ada di masyarakat yang dapat digali dari siswa, tetapi apabila guru tidak berhasil memperoleh tanggapan dari siswa dapat saja dikemukakan oleh guru sendiri. Tahap ini dapat disebut dengan inisiasi atau mengawali, memulai, dan dapat pula disebut dengan invitasi yaitu undangan agar siswa memusatkan perhatian pada pembelajaran. Apersepsi dalam kehidupan juga dapat dilakukan, yaitu mengaitkan peristiwa yang telah diketahui siswa dengan materi yang akan dibahas, sehingga tampak adanya kesinambungan pengetahuan, karena diawali dengan hal-hal yang tidak diketahui siswa sebelumnya yang ditekankan pada keadaan yang ditemui dalam keadaan sehari-hari. Pada dasarnya apersepsi merupakan proses asosiasi ide baru dengan yang sudah dimiliki sebelumnya oleh seseorang.

Gilberti (-) mengemukakan contoh isu atau masalah yang ada di masyarakat dan berkaitan dengan sains dan teknologi berikut ini.
a. Penipisan ozon karena pemanasan global
b. Penanganan pencemaran air.
c. Sampah yang membahayakan pertumbuhan populasi.
d. Tenaga nuklir dan pembangkit listrik tenaga nuklir.
e. Sistem teknologi transportasi.

Pada pendahuluan ini guru juga dapat melakukan eksplorasi terhadap siswa melalui pemberian tugas untuk melakukan kegiatan di lapangan atau di luar kelas secara berkelompok. Kegiatan mengunjungi dan mengobervasi keadaan di luar kelas itu bertujuan untuk mengaitkan antara konsep-konsep atau teori yang dibahas di kelas dengan keadaan nyata yang ada di lapangan. Dengan mendiskusikan temuan mereka, merencanakan tindakan selanjutnya, terjadilah kolaborasi dan koordinasi dalam kelompok, dan tercipta suatu dinamika kelompok, yang bermanfaat diterima kelompok dan direncanakan untuk dilakukan, merupakan kebanggaan tersendiri sehingga orang tersebut merasa dihargai, yang pada gilirannya akan mau berpikir terus untuk kebaikan dan penghargaan kelompok lain terhadap kelompoknya.

Isu yang mengundang pro dan kontra mengharuskan siswa berpikir untuk menganalisis isu tersebut. Dengan demikian ada interaksi antara guru dengan siswa atau antarsiswa. Proses interaksi ini menuntut seseorang untuk berpikir tentang ide-ide dan analisis yang akan dikemukakan atau cara mempertahankan pandangan tentang isu-isu tersebut. Apabila masalah yang dikemukakan atau ditemukan itu berasal dari guru, siswa tetap juga harus berpikir tentang penyelesaian masalah yang direncanakan meskipun konsep-konsep sebagai produk pengetahuan untuk menyelesaikan masalah belum diketahui karena belum dilaksanakan pembentukan konsep.

Proses pembentukan konsep (tahap 2) dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan dan metode. Misalnya pendekatan keterampilan proses, metode eksperimen, diskusi kelompok, dan lain-lain.

Pada akhir pembentukan konsep diharapkan siswa telah dapat memahami apakah analisis terhadap isu-isu atau penyelesaian terhadap masalah yang dikemukakan di awal pembelajaran telah menggunakan konsep-konsep yang diikuti oleh para ilmuwan. Dengan demikian siswa yang memiliki prakonsepsi yang berbeda dengan konsep-konsep para ilmuwan, seringkali merasa bahwa konsep yang dimiliki sebelumnya ternyata tidak dapat atau kurang tepat untuk menyelesaikan masalah yang ia hadapi. Siswa dapat mengalami konflik kognitif lebih dahulu apabila konsep yang digunakan untuk menyelesaikan masalah atau menganalisis isu dirasakan tidak benar. Semua kemampuan mental kita yaitu mengingat, memahami dan lain-lain terorganisasi dalam suatu sistem yang kompleks yang secara keseluruhan disebut dengan kognisi.

Dalam hubungan sosial, seseorang dapat pula mengalami konflik kognitif apabila pandangan atau penyelesaian masalah yang telah direncanakan tidak sesuai dengan pandangan orang lain atau kebanyakan orang. Namun setelah berdiskusi, ia kemudian menyadari dan mengambil keputusan bahwa pandangannya perlu diubah.

Selanjutnya berbekal pemahaman konsep yang benar, siswa melakukan analisis isu atau penyelesaian masalah yang disebut aplikasi konsep dalam kehidupan (tahap 3). Adapun konsep-konsep yang telah dipahami siswa dapat diaplikasikan dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Selama proses pembentukan konsep, penyelesaian masalah dan/atau analisis isu (tahap 2 dan tahap 3) guru perlu meluruskan jika ada miskonsepsi selama kegiatan belajar berlangsung. Kegiatan ini disebut pemantapan konsep. Apabila selama proses pembentukan konsep tidak tampak ada miskonsepsi yang terjadi pada siswa, demikian pula setelah akhir analisis isu dan penyelesaian masalah, guru tetap perlu melakukan pemantapan konsep sebagaimana tampak pada alur pembelajaran (tahap 4) melalui penekanan pada konsep-konsep kunci yang penting diketahui dalam bahan kajian tertentu.

Contoh RPP dan LKS berbasis S-T-M dapat diunduh pada artikel ini.


DAFTAR PUSTAKA

Galib, La Maronta. (2001). Penerapan Model Konstruktif Pembelajaran Sains dan Teknologi dengan Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat dan Strategi Pembelajaran Modul di Sekolah Dasar Kecil Negeri Bungin. Disertasi Doktoral Program Studi Pendidikan IPA PPS UPI: tidak diterbitkan.

Gilberti, Anthony F. (-). The Science/Technology/Society Approach. [Online]. Tersedia: http://isu.indstate.edu/gilberti/greece/sts.html. [6 April 2007]
King, Kenneth P. (-). Examination of the Science-Technology-Society Approach to the Curriculum. [Online]. Tersedia: www.cedu.niu.edu/scied/courses/common_files/sts_overview.pdf . [6 April 2007]


Poedjiadi, Anna. (1987). Sejarah dan Filsafat Sains. Bandung: Yayasan Cendrawasih.


. (1994). “Pendekatan Sains-Teknologi-Masyarakta dalam Pendidikan Sebagai Upaya Meningkatkan Literasi Sains dan Teknologi”. Makalah pada Seminar Nasional Hasil Penelitian Pendidikan MIPA ke III tanggal 25-27 Juli 2004, Ujung Pandang.


(2005). Sains Teknologi Masyarakat Model Pembelajaran Kontekstual Bermuatan Nilai. Bandung: Rosdakarya


Sukri. (2000). Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat dalam Pembelajaran Biologi (Studi Kuasi Eksperimen Topik Penggunaan dan Pelestarian Keanekaragaman Hayati di Kelas I MAN Malang). Tesis Magister Program Studi Pendidikan IPA PPS UPI: tidak diterbitkan


Toharudin, Uus. (2007, 5 Januari). Sains Dalam Pembelajaran di Sekolah. Pikiran rakyat [Online], halaman -. Tersedia:
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/012007/05/wacana.htm. [6 April 2007]


Jumat, Desember 10, 2010

Penggunaan Program Multimedia Interaktif dalam Pembelajaran Biologi

Dipublikasikan dalam Workshop Internasional Pendidikan IPA Tahun 2009
di Sekolah Pascasarjana UPI Bandung

Abstrak
Studi ini mencoba mengimplementasikan program multimedia interaktif (MMI) dalam pembelajaran biologi di kelas IX. Program MMI Reproduksi Hewan yang disertai berbagai gambar, animasi, dan video menjadi alternatif pemecahan masalah untuk bahan ajar yang banyak memuat konsep-konsep yang sulit untuk divisualisasikan.


I. PENDAHULUAN
Dalam konsep lama model penyampaian informasi, pendidik (teacher) berperan sebagai seorang expert yang menyampaikan informasi kepada peserta didik (learner). Akan tetapi, seiring dengan perubahan kurikulum, pembelajaran dituntut untuk lebih melibatkan peran aktif peserta didik. Apalagi sekarang ini siswa mempunyai kreativitas yang lebih tinggi, memiliki keinginan untuk mencari dan mendapatkan sesuatu yang baru, anti kemonotonan dan berjiwa dinamis. Karakter seperti ini tentu saja harus diikuti dengan pola pengajaran yang mampu menampung perubahan tersebut.

Guru hendaknya memiliki kepekaan dengan berani mencoba metode-metode baru yang dapat membantu meningkatkan kegiatan pembelajaran dan meningkatkan motivasi siswa untuk belajar. Guru yang baik berperan menyediakan, menunjukkan, membimbing, dan memotivasi siswa agar mereka dapat berinteraksi dengan berbagai sumber belajar yang ada (Depdiknas, 2003).

Tentu saja, sebelum memutuskan untuk menerapkan metode dan media tertentu dalam pembelajaran, guru hendaknya terlebih dahulu mengenali karakteristik siswa dan karakteristik bahan ajar. Seringkali guru menghadapi kendala ketika merancang kegiatan pembelajaran yang banyak memuat konsep abstrak. Sebagai contoh kasus ialah pembelajaran konsep reproduksi hewan di kelas IX, yang meliputi materi tentang reproduksi aseksual, ovulasi, dan fertilisasi.
Ketiga materi tersebut merupakan materi yang sulit dipahami oleh siswa SMP karena di dalamnya terkandung konsep yang bersifat abstrak dan sulit dijelaskan, sehingga tak ayal lagi pemahaman siswa terhadap konsep ini masih belum optimal. Walaupun anak yang berusia di atas 11 tahun berada pada tahap berpikir operasional formal (Piaget dalam Setiono, 1983), namun siswa SMP seringkali masih mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep yang bersifat abstrak. Ovulasi dan fertilisasi di dalam organ reproduksi wanita sulit untuk dieksplorasi secara detil karena tidak ada obyek langsung yang dapat dipelajari. Reproduksi aseksual hewan vertebrata sulit dipraktekkan di sekolah, sebab terkendala dengan sumber belajar yang terbatas dari lingkungan. Kondisi demikian dapat menyebabkan kesulitan bagi siswa untuk menguasai dan memahami konsep-konsep abstrak tersebut yang dapat memancing terjadinya miskonsepsi (Surbakti, 2000). Dengan demikian, untuk memahami suatu konsep yang abstrak anak memerlukan benda-benda yang kongkrit (riil) sebagai perantara atau visualisasi (Arifin et al., 2003). Oleh sebab itu, pembelajaran konsep reproduksi pada hewan perlu dibantu dengan menggunakan alat visualisasi.

Di era teknologi dan informasi ini, komputer bukan menjadi barang yang asing, bahkan komputer sudah dipergunakan dalam pembelajaran. Hanya saja, penggunaan komputer di kelas masih terbatas pada pembelajaran bidang studi tertentu. Padahal dengan berbagai fasilitas yang tersedia di dalam komputer, suasana belajar dapat menjadi menyenangkan (Universitas Negeri Jakarta, 2005).


II. MODEL MULTIMEDIA INTERAKTIF
Multimedia komputer merupakan gabungan teks, suara, gambar, warna, animasi, dan video dengan alat bantu (tool) dan koneksi (link) untuk dapat menyampaikan informasi sehingga pengguna dapat bernavigasi (The Florida Center for Instructional Technology University of South Florida, 2007). Multimedia sebagai gabungan berbagai jenis media mampu menciptakan suasana belajar yang begitu menarik dan menyenangkan sehingga akan memberikan motivasi belajar yang lebih tinggi dalam diri siswa (Ena, 2006; Ariasdi, 2008).

Multimedia memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar tidak hanya dari guru, tetapi memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan kognitif dengan lebih baik, kreatif dan inovatif. Hal ini salah satunya karena informasi disajikan dalam dua atau lebih bentuk seperti dalam bentuk gambar dan kata-kata (Mayer dan Moreno, 1998 dalam Saguni, 2006).

Multimedia juga dapat menjadi alat, metode dan pendekatan yang digunakan untuk membuat komunikasi di antara guru dengan siswa selama proses pembelajaran sehingga pembelajaran lebih berkesan dan bermakna. Kemampuan multimedia memberi pengajaran secara individu (melalui sistem tutor) bukan berarti tidak ada pengajaran secara khusus dari guru, melainkan siswa memiliki kebebasan untuk belajar mandiri tanpa harus selalu didampingi guru. Pengajaran langsung dari guru tetap dilestarikan, dan program ini bisa lebih memudahkan pengajaran. Guru tidak perlu mengulangi penjelasannya jika siswa tidak paham, sebab program bisa dilihat berulangkali sampai siswa benar-benar memahaminya. Sedangkan bagi siswa, penggunaan multimedia dapat lebih memacu motivasi belajar, dapat memberikan penjelasan yang lebih lengkap terhadap suatu permasalahan, dan memudahkan untuk mengulang pelajaran. Oleh karena itu, kehadiran multimedia dalam proses belajar dapat dirasakan manfaatnya. (Munir 2001 dalam Salmiyati, 2007).

Multimedia tidak perlu pencetakan hard copy (Nurtjahjawilasa, 2004). Berbagai variasi tampilan/visual bahkan audio mulai dicoba seperti animasi bergerak, potongan video, rekaman audio, paduan warna dibuat untuk mendapatkan sarana bantu mengajar yang sebaik-baiknya. Multimedia merangkum berbagai media dalam satu software sehingga memudahkan guru untuk menyampaikan bahan pengajaran dan siswa merasa dilibatkan dalam pembelajaran karena multimedia memberi fasilitas untuk berlangsungnya interaksi.

Satu jenis multimedia yang dianjurkan dipergunakan dalam pembelajaran adalah multimedia interaktif (MMI). MMI memungkinkan pengguna dapat memilih apa yang akan dikerjakan selanjutnya, bertanya atau mendapatkan jawaban yang mempengaruhi komputer untuk mengerjakan fungsi selanjutnya (Sutopo, 2003; Ariasdi, 2008). Beberapa pakar MMI (Muhammad, 2002; Setiawan, 2007), mengemukakan bahwa model pembelajaran MMI diartikan sebagai suatu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (message), merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong proses belajar.

MMI setidaknya memiliki dua elemen penting. Keduanya adalah animasi dan video (Reiber, 1994 dalam Nurtjahjawilasa, 2004; Chia, 2003). Animasi merupakan kumpulan gambar yang diolah sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan bahwa gambar-gambar yang ditampilkan bergerak (Suheri, 2006; Utami, 2007). Di sisi lain, video ‘menangkap’ citra yang bergerak untuk selanjutnya disimpan dalam rangkaian foto yang diam dan diputar kembali menjadi gerak sesuai durasi yang dikehendaki (Ariasdi, 2008). Menurut Ariasdi (2008), video cocok untuk menyajikan realita sedangkan animasi sesuai untuk menciptakan realita dari sesuatu yang tidak dapat ‘ditangkap’ oleh realita dalam citra visual.

Dengan karakteristik yang demikian, animasi dan video dapat menjadi media pembelajaran yang baik karena dapat memperlihatkan aspek-aspek yang dinamik sehingga lebih informatif, lebih jelas menampilkan materi subjek sehingga siswa mampu membuat interpretasi yang benar.
Animasi dan video tidak memerlukan pemakaian simbol tambahan (tanda panah, garis putus-putus, dan lain-lain) seperti yang sering digunakan pada ilustrasi statis. Dengan demikian, siswa yang belajar dengan memanfaatkan animasi dan video tidak perlu melakukan proses dekoding untuk menginterpretasikan simbol agar dapat memahami materi. Selain itu tampilan keduanya yang memikat dapat menarik perhatian siswa karena pada dasarnya manusia lebih menyukai sesuatu yang dinamis daripada statis (Rieber 1990 dalam Chan dan Black, 2005; Park dan Gittelman 1992 dalam Chan dan Black, 2005; Lowe, 2001; Nurtjahjawilasa, 2004; Suheri, 2006; Utami 2007).

Berikut merupakan bagan alur (flow chart) serta tampilan multimedia interaktif yang dikembangkan.

Gambar 1. Bagan Alur Program Multimedia Interaktif Reproduksi Hewan





II. CONTOH IMPLEMENTASI
• Kelas/ Semester : IX/ 2
• Konsep : Reproduksi Hewan
• Waktu : 2 pertemuan (4 x 40 menit)
• Pendekatan : Konsep
• Metode : Computer Assisted Instruction
• Standar Kompetensi :
7. Mengaplikasikan konsep pertumbuhan dan perkembangan, kelangsungan hidup, dan
pewarisan sifat pada organisme, serta kaitannya dengan lingkungan, teknologi, dan
masyarakat.
• Kompetensi Dasar :
7.3. Mengidentifikasi persamaan dan perbedaan cara reproduksi organisme

Tabel 1. RPP



IV. KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN
Berdasarkan hasil implementasi model pembelajaran di kelas, maka dapat disimpulkan bahwa model ini memiliki keunggulan dan kelemahan.

4.1. Keunggulan
  1. Pembelajaran MMI individual memberikan peluang lebih besar bagi siswa untuk melakukan eksplorasi dan simulasi untuk mengkonstruk pemahaman konsepnya.
  2. Kendali berada di tangan siswa sehingga tingkat kecepatan belajar siswa dapat disesuaikan dengan tingkat penguasaannya.
  3. Dapat mengakomodasi siswa yang lamban menerima pelajaran, karena ia dapat memberikan iklim yang lebih bersifat afektif dengan cara yang lebih individual, tidak pernah lupa, tidak pernah bosan, sangat sabar dalam menjalankan instruksi seperti yang diinginkan.
  4. MMI dapat meningkatkan kemandirian belajar siswa melalui pengulangan dan simulasi proses yang terdapat dalam program MMI.
  5. Tersedia soal-soal latihan dalam bentuk gamez.
  6. Tersedia soal evaluasi yang urutannya diacak beserta pembahasannya
  7. Adanya video dan animasi yang lebih eksplisit dan informatif dalam menampilkan suatu konsep meminimalisir terjadi kesalahan dan kesalahpahaman karena siswa mampu membuat penafsiran yang benar.
  8. Penggunaan multimedia menuntut keterlibatan organ tubuh seperti telinga (audio), mata (visual), dan tangan. Keterlibatan berbagai organ ini membuat informasi lebih mudah diingat.
4.2. Kelemahan
  1. Diperlukan dana yang tidak sedikit dalam merancang program MMI. Namun sekarang sudah tersedia program MMI yang diperjualbelikan dengan harga terjangkau.
  2. Diperlukan komputer dalam jumlah yang banyak.
  3. Pembelajaran dengan menggunakan MMI menuntut keahlian guru dan siswa dalam menggunakan dan mengoperasikan komputer. Guru dan siswa juga hendaknya memiliki sikap yang positif terhadap komputer.
  4. Pembelajaran sedikit bersifat isolatif. Namun dapat diminimalisir dengan keterlibatan guru dalam membimbing siswa merekonstruksi pengetahuan di akhir pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Ariasdi. (2008). Panduan Pengembangan Multimedia Pembelajaran. [Online]. Tersedia:
http://ariasdimultimedia.wordpress.com/2008/02/12/panduan-
pengembangan-multimedia-pembelajaran.html [10 Mei 2008].

Arifin, M. et al. (2003). Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA
UPI.

Depdiknas. (2003). Media Pembelajaran. Jakarta: Depdiknas.

Ena, O. (2006). Membuat Media Pembelajaran Interaktif dengan Piranti Lunak Presentasi.
[Online]. Tersedia: www.ialf.edu/kipbipa/papers/OudaTedaEna.doc [14
September 2007].

Nurtjahjawilasa. (2004). Efektifitas Multimedia dalam Menunjang Pembelajaran. [Online].
Tersedia: www.pusdiklathut.com/silvika_eng.php [26 Februari 2007].

Saguni, F. (2006). Prinsip-prinsip Kognitif Pembelajaran Multimedia: Peran Modality dan
Contiguity Terhadap Peningkatan Hasil Belajar. Dalam Insan [Online], Vol 8
(3), 11 halaman. Tersedia: www.journal.unair.ac.id/filerPDF
/01%2520-%2520Prinsip-Prinsip%2520Kognitif%2520
Pembelajaran%2520Multimedia%3DPeran%2520Modality%2520dan%2520
Contiguity%2520Terhadap%2520Peningkatan%2520Hasil%2520Belajar.pdf
[21 Maret 2008].

Salmiyati. (2007). Implementasi Teknologi Multimedia Interaktif dalam Pembelajaran Konsep
Sistem Saraf untuk Meningkatkan Pemahaman dan Retensi Siswa. Tesis
Magister pada SPs UPI: tidak diterbitkan.

Setiono, K. (1983). Teori Perkembangan Kognitif. Bandung: Fakultas Psikologi Unpad.

Suheri, A. (2006). Animasi dalam Pembelajaran. Dalam Animasi dalam Pembelajaran [Online],
Vol 2 (1), 7 halaman. Tersedia: http:// unsur.ac.id/images/articles
/27_33_pak_agus.pdf [2 Juni 2007].

Surbakti, R. (2000). Analisis Miskonsepsi Siswa Madrasah Aliyah tentang Konsep Reproduksi
Sel. Tesis Magister pada SPs UPI: tidak diterbitkan.

The Florida Center for Instructional Technology University of South Florida. (2007). Multimedia
in The Classroom. [Online]. Tersedia: http://fcit.usf.edu/multimedia
/overview/overviewa.html. [22 Mei 2007].

Universitas Negeri Jakarta. (2005). Pemanfaatan Teknologi Informasi dan
Multimedia dalam Pembelajaran. [Online]. Tersedia: http://www.unj.ac.id
/seminar/snpf2005/content.htm [5 Juni 2008].

Utami, D. (2007). Animasi dalam Pembelajaran. [Online]. Tersedia: http://www.uny.ac.id
/akademik/sharefile/files/222.124.21.201_12032007111113_
Efektifitas_Animasi_Dalam_Pembelajaran.doc [14 September 2007].

Untuk memperoleh artikel ini dengan tampilan yang lebih jelas, silakan Anda mengklik link ini atau di sini

Selasa, November 16, 2010

Lembar Kerja Siswa (LKS) Sistem Pernapasan Manusia

Sebelum mengikuti kegiatan pembelajaran IPA hari Rabu, 24 Nopember 2010 siswa kelas VIII_9 dan VIII_10 silakan untuk mengunduh Lembar Kerja Siswa (LKS) Sistem Pernapasan Manusia di sini atau di sini. LKS ini diisi di rumah, lalu didiskusikan bersama-sama guru di kelas (Rabu, 24 Nopember 2010). Jawab pertanyaan dengan teliti karena LKS yang sudah diisi akan diberi nilai. Gunakan buku paket untuk membantu menjawab pertanyaan. Siswa diperkenankan berdiskusi dengan teman di rumah namun tidak diperbolehkan mencontek. Terima kasih. Chaiyo!

Senin, November 15, 2010

Lembar Kerja Siswa (LKS) Bahan Kimia dalam Kehidupan

Sebelum mengikuti kegiatan pembelajaran IPA hari Selasa tanggal 23 Nopember 2010 masing-masing siswa kelas VIII-9 dan VIII-10 diharuskan untuk memiliki LKS Bahan Kimia dalam Kehidupan dan mengisinya di rumah. LKS yang telah diisi dibawa ke sekolah (Selasa, 23 Nopember 2010) untuk didiskusikan bersama-sama guru di kelas. Gunakan buku paket untuk membantu menjawab pertanyaan. Berdasarkan jawaban yang diberikan, maka LKS tersebut akan diberikan nilai yang dimasukkan ke dalam nilai K. D. 4.1., yaitu mencari informasi tentang kegunaan dan efek samping bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari.

Silakan untuk mengunduh LKSnya di sini atau di sini.

Senin, November 01, 2010

Uji Kandungan Makanan

Pembelajaran Uji Kandungan Makanan ini dilakukan untuk membuktikan kandungan zat makanan pada berbagai makanan yang selama ini sering dikonsumsi. Dapat dikatakan bahwa materi inilah yang pertama kali dipelajari siswa pada konsep Sistem Pencernaan Makanan Manusia. Adapun bahan-bahan yang diuji merupakan bahan yang sederhana sebanyak 4 (empat) macam, yaitu terigu, minyak goreng, putih telur, dan glukosa. Sebenarnya bahan-bahan uji dapat dikembangkan, misalnya dengan menambahkan mentega/margarin, nasi, vitamin C dosis tinggi (yang mudah ditemui di pasar), garam, air, tahu/tempe bila alokasi waktu pembelajaran lebih dari 2 X 40 menit, namun hal ini sulit untuk dipenuhi. Masing-masing makanan akan diuji kandungan karbohidrat, glukosa, protein dan lemak. Pengujian karbohidrat dilakukan menggunakan iodium, glukosa oleh uji Benedict, protein oleh uji Biuret, sementara uji lemak menggunakan alat konvensional berupa kertas.

Setiap kelompok memperoleh satu set peralatan praktikum yang meliputi: 4 tabung reaksi, 1 pembakar spirtus, 1 penjepit tabung reaksi, 1 sendok pengaduk, korek api, 1 pelat tetes, 4 pipet, tisu, dan kertas buram. Sebelum praktikum dilaksanakan tak lupa perlu ditanamkan rasa bertanggung jawab kepada siswa dalam melaksanakan kegiatan. Mereka harus bersungguh-sungguh, serius, berhati-hati dalam melaksanakan setiap langkah kerja agar tidak membahayakan dirinya dan orang lain. Penting juga untuk mengingatkan siswa untuk senantiasa menjaga kebersihan peralatan dan laboratorium, segera mencuci peralatan dan mengeringkannya setelah praktikum usai.

Menguji Kandungan Glukosa Melalui Uji Benedict

Keempat Bahan (dari Kiri-Kanan): Terigu, Minyak, Putih Telur
(bawah) Glukosa Telah Ditetesi Iodium

Silakan mengunduh file Lembar Kerja Siswa (LKS) di http://www.scribd.com/doc/86035940/Uji-Kandungan-Makanan agar lebih dapat memahami langkah kerja yang dilakukan.

UJI KANDUNGAN MAKANAN edit.doc - 58.0 KB

Sabtu, Agustus 14, 2010

Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM) melalui Contextual Teaching and Learning

Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM) sudah menjadi promadona di hampir setiap workshop pembelajaran. Seiring dengan beralihnya paradigma teacher-centered ke student-centered, maka perlu adanya kreativitas dalam menciptakan pembelajaran yang menarik sehingga siswa terangsang aktif dalam belajar. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan dalam rangka mewujudkan PAKEM ialah Contextual Teaching and Learning (CTL).

Pada CTL, konstruktivisme menjadi filosofi yang mendasari pembelajaran. Guru hendaknya menyediakan tangga kepada siswa agar dapat membangun konsep tertentu. Tangga dalam konteks ini adalah kondisi pembelajaran. Siswa ditempatkan dalam suasana belajar yang menyenangkan yang dapat memberikan kesempatan besar bagi mereka untuk mengeksplorasi materi. Pengetahuan yang diperoleh melalui eksplorasi dan penemuan akan bersemayam lama dalam benak siswa. Untuk mencapai tangga tertinggi, maka guru hendaknya menjadi motivator ulung, sampaikan pada mereka hal-hal apa saja yang harus diperoleh di akhir pembelajaran dan tentu saja jangan lupa untuk menunjukkan cara kepada mereka bagaimana untuk mencapai tangga tertinggi itu.

Dengan kata lain, kiranya dapat diringkas, bahwa CTL dibangun oleh delapan pilar utama:
+ Membuat keterkaitan yang bermakna;
+ Melakukan pekerjaan yang berarti;
+ Melakukan pembelajaran yang diatur sendiri;
+ Bekerja sama;
+ Berpikir kritis dan kreatif;
+ Membantu individu untuk berkembang;
+ Mencapai standar tinggi;
+ Menggunakan penilaian autentik.

Berikut merupakan contoh pembelajaran yang menerapkan CTL pada konsep Seleksi Alam di kelas IX
Menarik dan Memfokuskan Perhatian Siswa

Pada tahapan pembelajaran ini terkandung pilar CTL:
+ Membuat keterkaitan yang bermakna;
+ Membantu individu untuk berkembang;

Kegiatan Apersepsi

Adapun pilar CTL yang diterapkan dalam kegiatan apersepsi, yaitu:
+ Membuat keterkaitan yang bermakna;
+ Berpikir kritis dan kreatif;
+ Membantu individu untuk berkembang;
+ Menggunakan penilaian autentik.

Merumuskan Masalah dan Hipotesis

Bagi siswa yang masih belum terbiasa merancang kegiatan ilmiah, maka rumusan masalah dapat diajukan oleh guru. Di tahapan ini, pilar CTL yang melandasi ialah:
+ Membuat keterkaitan yang bermakna;
+ Membantu individu untuk berkembang;

Menjelaskan Kegiatan Praktikum

Meskipun sebelum kegiatan praktikum dilaksanakan siswa telah diminta untuk memahami langkah kerja yang akan dilakukan, akan tetapi penting untuk memastikan bahwa siswa melaksanakan prosedur yang benar. Dengan kata lain, guru telah membantu individu untuk berkembang.

Kegiatan Praktikum

Kegiatan praktikum dan diskusi kelompok/kelas merupakan sarana bagi siswa untuk mengeksplorasi kemampuan mereka sebesar-besarnya. Siswa diharapkan dapat:
+ Membuat keterkaitan yang bermakna;
+ Melakukan pekerjaan yang berarti;
+ Melakukan pembelajaran yang diatur sendiri;
+ Bekerja sama;
+ Berpikir kritis dan kreatif;
+ Mencapai standar yang tinggi.
Guru membantu individu untuk berkembang dan mencapai standar tinggi. Untuk mengukur kemampuan siswa yang sesungguhnya maka digunakan penilaian autentik berupa penilaian kinerja.

Diskusi Kelompok


Diskusi Kelas


Menyimpulkan
Di kegiatan terakhir pembelajaran siswa diajak untuk membuat keterkaitan yang bermakna dengan menyimpulkan. Mereka diharapkan dapat mencapai standar yang tinggi setelah usai mengikuti serangkaian tahapan kegiatan pembelajaran.

Contextual Teaching and Learning (CTL)


Merumuskan Masalah dan Hipotesis

Contextual Teaching and Learning (CTL)


Apersepsi

Contextual Teaching and Learning (CTL) pada Pembelajaran Konsep Seleksi ...


Kegiatan Menarik dan Memfokuskan Perhatian

Contextual Teaching and Learning (CTL)


Kegiatan Diskusi Kelas

Contextual Teaching and Learning (CTL)


Kegiatan Diskusi Kelompok

Contextual Teaching and Learning (CTL)


Kegiatan Praktikum

Contextual Teaching and Learning (CTL)


Kegiatan Menyimpulkan

Kamis, Agustus 05, 2010

Praktikum Fotosintesis

Fotosintesis merupakan salah satu kajian ilmu mengenai tumbuhan. Untuk mempelajari materi ini, siswa diajak untuk melakukan percobaan. Sebenarnya ada beberapa praktikum yang menunjang pembelajaran fotosintesis, di antaranya Percobaan Ingenhousz dan Percobaan Sachs. Akan tetapi mengingat sulitnya memperoleh tumbuhan air Hydrilla vercilata di Cimahi, maka percobaan yang memungkinkan untuk dilakukan adalah Percobaan Sachs. Adapun tujuan dari percobaan ini ialah membuktikan bahwa cahaya berpengaruh terhadap fotosintesis dan dari fotosintesis dihasilkan karbohidrat.

Kegiatan praktikum di kelas VIII-9 dan kelas VIII-10 dilaksanakan hari Rabu, 4 Agustus 2010. Seminggu sebelumnya siswa diminta untuk menutup sebagian daerah pada daun singkong dengan kertas karbon hitam atau aluminium foil dan dipetik ketika akan praktikum. Mereka juga diminta untuk membawa alkohol 70 %, iodium dan lap serta sabun cuci cair untuk membersihkan peralatan yang telah digunakan. Oleh karena salah satu langkah kerja berkenaan dengan bakar-membakar (merebus daun singkong sampai layu dan melarutkan klorofil dengan menggunakan alkohol) sangat perlu untuk ditekankan mengenai keselamatan kerja pada diri siswa.

Uraian materi dan petunjuk pelaksanaan percobaan dapat didownload di sini. Berikut merupakan Galeri Foto pada Percobaan Sachs. Silakan klik Galeri Foto untuk mendownload semua foto yang berkaitan dengan kegiatan praktikum ini.
Daun yang Tidak Ditutupi Kertas Karbon Terlihat Berwarna Biru
Karena Banyak Mengandung Amilum

Daun yang Ditutupi Kertas Karbon Hanya Sedikit Berwarna Biru
Karena Sedikit Mengandung Amilum

Siswa kelas VIII-9 dan VIII-10 nampak gembira karena percobaannya berhasil.














Setelah melaksanakan Percobaan siswa diminta untuk mengumpulkan Laporan Hasil Praktikum dengan susunan sebagai berikut:

Pedoman Penyusunan Laporan Penelitian

Sampul (Cover), cantumkan judul praktikum, nama anggota kelompok (yang bekerja), kelas, tahun pembuatan.
BAB I (PENDAHULUAN), cantumkan:
A. Latar Belakang Penelitian
B. Rumusan Masalah Penelitian
C. Tujuan Penelitian
BAB II (DASAR TEORI), berisi teori-teori yang berkaitan dengan fotosintesis
BAB III (METODE PENELITIAN), cantumkan:
A. Alat dan Bahan Praktikum
B. Langkah/Urutan Kerja Praktikum
BAB IV (HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN), cantumkan:
A. Hasil Penelitian
B. Pembahasan Hasil Praktikum, kemukakan :
1. Apakah tujuan praktikum berhasil dicapai oleh kelompok kalian. Berikan penjelasan mengapa berhasil/tidak.
2. Jawaban hasil diskusi pertanyaan di buku paket halaman 70.
BAB V (KESIMPULAN), kemukakan kesimpulan hasil praktikum yang dibuat kelompok.
DAFTAR PUSTAKA, tuliskan buku atau sumber informasi yang kalian gunakan untuk membuat laporan hasil praktikum ini. Gunakan kaidah penulisan daftar pustaka yang benar.

Untuk pembahasan hasil praktikum akan dilaksanakan diskusi kelas, dengan penyajian presentasi dari satu kelompok terpilih. Jadi bagi siswa-siswa kelas VIII-9 dan VIII-10 silakan menyiapkan diri melakukan presentasi.

Materi Pembelajaran Fotosintesis

Silakan klik di sini.

Senin, Juli 26, 2010

Perlukah Pendidikan Seks untuk Anak?

Ditunjuknya pengacara kondang Hotman Paris Hutapea sebagai kuasa hukum Cut Tari membuat kasus video porno yang diduga diperankan oleh Ariel, Luna Maya dan Cut Tari terus bergulir panas dan entah sampai kapan berakhir. Hebohnya kasus ini sangat menarik perhatian masyarakat dan berdampak besar bagi anak-anak yang mengidolakan ketiga artis itu.

Betapa mirisnya mengetahui bahwa semakin banyak anak Indonesia yang melakukan pelecehan, pemerkosaan dan menjadi korban seksual seiring bergulirnya kasus tersebut. Ketua KPAI Hadi Supeno mengungkapkan dari tanggal 14 Juni-23 Juni KPAI menerima laporan 33 anak yang diperkosa berumur antara 4-12 tahun. Para pelaku yang berusia 16-18 tahun, mengaku sebelum memperkosa, mereka menonton video Ariel. Seluruh pelaku yang tertangkap polisi mengaku terangsang setelah menyaksikan tayangan seks Ariel (www.kpai.go.id). Kita sebagai masyarakat hanya bisa berharap agar para pelaku dan penyebar video porno ditangkap dan dijatuhi hukuman seberat-beratnya agar memberikan efek jera dan menjadi pembelajaran bagi masyarakat.

Peristiwa ini tak pelak memunculkan serangkaian pertanyaan. Bagaimana masa depan generasi muda Indonesia? Mengapa mereka dapat dengan mudah terprovokasi oleh tayangan porno? Perlukah pendidikan seks diberikan kepada anak?

Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh kepada Antara (www.antaranews.com) menyatakan ketidaksetujuannya dengan keinginan sejumlah pihak agar diberikan pendidikan seks di sekolah kepada murid terkait dengan maraknya peredaran film porno yang diduga dilakukan oleh sejumlah artis. Dalam pandangannya, pendidikan seks tidak perlu menjadi salah satu kurikulum di sekolah karena seks bisa tumbuh dan muncul secara alamiah tanpa harus diajarkan.

Anda dapat sepakat atau berbeda pandangan dengan beliau. Namun yang tidak dapat dipungkiri, masa remaja adalah masa dimana seseorang memiliki keingintahuan yang besar mengenai seks. Di Indonesia, kata seks menjadi kata yang paling populer dicari melalui mesin pencari informasi Google. Oleh karena masih banyaknya orang yang menganggap seks tabu untuk dibicarakan kepada anak, maka anak berinisiatif mencari tahu sendiri melalui berbagai sumber informasi yang tak jarang keliru untuk memenuhi rasa keingintahuannya. Akibatnya, jika tidak mendapatkan informasi mengenai seks yang sepatutnya mereka akan terpengaruh oleh mitos-mitos yang tidak benar tentang seks.

Hasil survey Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seks pranikah (http://kumpulan.info/keluarga/anak/40-anak/258-pendidikan-seks-anak.html). Angka yang memprihatinkan di negeri yang cukup menjunjung tinggi nilai moral dan menganggap tabu dalam membicarakan seks. Dengan demikian, kiranya perlu dipertimbangkan agar pendidikan seks diberikan kepada anak oleh pihak yang berkompeten seperti orang tua, guru dan praktisi kesehatan.

Pendidikan Seks oleh Orang Tua
Mengapa orang tua ditempatkan pada urutan pertama sebagai pihak yang paling bertanggung jawab memberikan pendidikan seks kepada anak? Orang tua adalah guru pertama dan utama bagi anak. Prof. Dr. Nuryani Rustaman, guru besar Universitas Pendidikan Indonesia, menghimbau orang tua hendaknya memberikan pendidikan seks sejak balita, sejak anak dapat mengenali alat kelamin dirinya.

Maraknya kekerasan dan pelecehan seksual kepada anak di bawah umur dimungkinkan terjadi karena kurangnya pengetahuan anak untuk menjaga organ seks miliknya dari jangkauan orang lain. Pada usia balita anak dikenalkan dengan berbagai organ tubuhnya termasuk penis dan vagina. Organ tersebut harus dijaga dan dirawat kebersihannya dengan mencontohkan kepada anak bagaimana cara memeliharanya. Lalu jelaskan perbedaan alat kelamin yang dimiliki lawan jenisnya. Beritahu anak untuk tidak mempertontonkan organ seksnya di hadapan umum dan tekankan bahwa jangan sampai anak membiarkan organ kelaminnya disentuh oleh orang lain selain orang tuanya. Bila hal itu terjadi, katakan padanya agar berteriak sekeras-kerasnya dan melaporkan pada orang tua (http://kumpulan.info/keluarga/anak/40-anak/258-pendidikan-seks-anak.html).

Ketika anak sudah berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis, misalnya mengenai asal-usul bayi, orang tua tinggal menjawabnya secara sederhana bahwa bayi berasal dari benih yang diberikan ayah kepada ibu. Ayah memberikan benih melalui penis ke vagina ibu. Inilah yang disebut hubungan seksual dan hanya boleh dilakukan oleh pasangan suami istri.

Saat pola pikir anak semakin berkembang menjelang akil baligh, waktu yang tepat bagi orang tua untuk mengenalkan haid (menstruasi), mimpi basah dan perubahan fisik serta emosional anak ketika pubertas. Orang tua dapat menjelaskan bahwa anak perempuan akan mengalami haid yang ditandai dengan keluarnya darah dari vagina yang disertai dengan perubahan bentuk tubuh dan tumbuhnya payudara serta rambut-rambut halus di tempat-tempat tertentu. Sedangkan pada anak laki-laki masa pubertas ditandai dengan keluarnya cairan kental dari penis yang disebut cairan mani. Muncul jakun dan rambut-rambut halus di tempat tertentu disertai pula perubahan suara. Pada usia demikian, biasanya anak-anak merasa bingung, malu dan tidak percaya diri dengan perubahan dirinya. Karena itulah orang tua berperan besar untuk menenangkan dan memberikan pengetahuan-pengetahuan yang tepat. Informasikan juga kepada anak bahwa bila ia sudah mengalami pubertas, maka secara biologis ia sudah dapat menjadi ayah atau ibu. Oleh karena itu ia harus lebih berhati-hati menjaga organ seksualnya secara bertanggung jawab. Ajak anak untuk berdiskusi mengenai akibat pergaulan bebas dan penyakit seksual yang mungkin terjadi jika anak tidak bertanggung jawab dengan organ seksualnya. Terangkan sanksi agama dan sanksi sosial yang diberikan bila seseorang hamil di luar nikah, menikah karena 'kecelakaan', aborsi atau bahkan mengidap penyakit menular seksual yang mematikan.

Pendidikan Seks di Sekolah
Dengan dimulainya pendidikan seks sejak dini oleh orang tua, maka guru di sekolah tinggal memberikan penekanan-penekanan penting sesuai kurikulum yang berlaku. Pemerintah tidak perlu memunculkan kurikulum yang baru untuk merespon permintaan dari berbagai kalangan yang menghendaki diberikannya pendidikan seks di sekolah karena sebenarnya pendidikan seks dapat disampaikan dalam pembelajaran biologi khususnya materi sistem reproduksi pada manusia. Kurikulum di Indonesia yang bersifat spiral, memungkinkan materi yang dipelajari di Sekolah Dasar diulas secara lebih mendalam di tingkat Sekolah Menengah Pertama dan Atas sehingga pembelajaran materi Sistem Reproduksi Manusia berjalan berkesinambungan.

Guru tidak perlu malu ataupun sungkan mengajak siswa berdiskusi di kelas, justru guru harus dapat memanfaatkan kesempatan ini agar siswa dapat memperoleh pengetahuan yang benar dari sumber yang tepat. Ajak siswa untuk menggali informasi mengenai struktur dan fungsi organ reproduksi, karena fungsi organ pasti berkaitan dengan strukturnya. Strategi pembelajaran yang demikian menghindarkan siswa untuk sekedar menghapal akan tetapi membuat siswa memahami dan memaknai materi yang dipelajari. Minta siswa untuk mengemukakan cara perawatan organ reproduksi yang sangat penting bagi kelangsungan masa depan mereka. Libatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran kolaboratif atau kooperatif dalam rangka mengkaji kesehatan reproduksi terutama yang berkenaan dengan penyakit menular seksual dan kehamilan di luar nikah. Kepekaan siswa terhadap fenomena aktual di masyarakat dapat diasah dengan mengangkat isu-isu hangat yang beredar seperti pengaruh video/film porno, aborsi, kekerasan dan pelecehan seksual. Pembelajaran yang demikian tidak hanya dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa, tapi juga mampu mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa yang merupakan salah satu jenis keterampilan berpikir tingkat tinggi.

Sabtu, Juli 24, 2010

Organisasi Kehidupan

Silakan klik di sini.

Seleksi Alam

Silakan klik di sini.

Reproduksi Tumbuhan dan Hewan

Silakan klik di sini.

Pewarisan Sifat

Silakan klik di sini.

Sistem Koordinasi dan Alat Indra Manusia

Silakan klik di sini.

Sistem Eksresi Manusia

Silakan klik di sini.

Sistem Reproduksi Manusia

Silakan klik di sini.

Materi Pembelajaran Pewarisan Sifat

Silakan klik di sini dan di sini.

Materi Pembelajaran Pengelolaan Lingkungan dan Kependudukan

Silakan klik di sini

Kamis, Juli 22, 2010

Menerapkan Contextual Teaching and Learning pada Pembelajaran Konsep Jaringan Tumbuhan

Kegiatan pembelajaran IPA semester ini diawali dengan mempelajari materi pokok JARINGAN TUMBUHAN dengan dasar pemikiran bahwa siswa telah memiliki pengetahuan awal tentang jaringan penyusun tubuh mahluk bersel banyak di kelas VII, yaitu materi pokok ORGANISASI KEHIDUPAN. Pada pertemuan I, kegiatan pembelajaran diawali dengan memfokuskan perhatian dan melakukan apersepsi melalui pertanyaan-pertanyaan pemandu yang bertujuan untuk menggali pengetahuan awal siswa. Kegiatan ini tidak dapat dilewatkan karena pembelajaran yang dilakukan dilandasi oleh filosofi konstruktivisme dimana siswa bukanlah kertas kosong, akan tetapi siswa sudah memiliki skemata atau pengetahuan awal yang ia peroleh dari pengalaman hidup sebelumnya. Tugas guru adalah memfasilitasi mereka belajar dan memotivasi mereka untuk dapat meraih standar yang tinggi. Oleh karena itu saya selalu menerapkan penilaian autentik dalam setiap kali pembelajaran. Untuk siswa yang berani menjawab pertanyaan dan mengajukan pertanyaan diberikan bonus nilai. Nilai ini saya catat dan dianggap sebagai tabungan nilai siswa tersebut.

Pada kegiatan inti dilakukan diskusi kelas mengenai jaringan utama penyusun tumbuhan, yaitu jaringan epidermis, jaringan parenkim, jaringan meristem, jaringan pengangkut (xilem dan floem), jaringan penguat (kolenkim dan sklerenkim). Melalui diskusi kelas dilakukan eksplorasi mengenai ciri-ciri dan fungsi setiap jaringan.

Selepas kegiatan inti dilanjutkan dengan refleksi dan penguatan. Untuk mengecek kebenaran pembentukan pengetahuan oleh siswa, maka perlu kiranya guru memberikan tes. Tes tidak mesti dilakukan secara tertulis namun melalui tes lisan dapta juga diketahui sejauh mana siswa membangun pengetahuannya. Diinformasikan juga kepada siswa untuk membawa alat praktikum yang akan dilaksanakan pada pertemuan berikutnya besok.

Kegiatan praktikum yang dilaksanakan dirancang untuk dapat menjawab rumusan masalah, yaitu "Bagaimanakah jaringan-jaringan yang menyusun organ daun, akar dan batang?" Siswa harus diajak untuk menyadari bahwa mereka akan melaksanakan kegiatan ilmiah yang diawali dengan penentuan rumusan masalah. Bila siswa masih belum terbiasa menentukan rumusan masalahnya sendiri, maka tidak masalah jika guru yang mengajukan rumusan masalahnya kepada siswa. Selanjutnya adalah penentuan alat dan bahan serta langkah kerja. Meskipun siswa telah diberikan LKS, namun tidak jarang mereka lupa untuk membaca atau bahkan telah membaca namun mereka lupa. Karena itu guru perlu mengajak siswa untuk menyimak langkah kerja agar siswa benar-benar memahami aktivitas yang mereka laksanakan sehingga mereka secara sadar membangun pengetahuannya sendiri.

Observasi preparat sayatan melintang daun Ficus dilakukan dengan menggunakan mikroskop. Bersama dengan teman sekelompoknya mereka mengamati sayatan daun dan mengamati gambar sayatan melintang akar dan batang monokotil-dikotil. Sungguh disayangkan, miksroskop yang masih berfungsi dengan baik hanya ada 6 buah, setiap kelompok memperoleh satu buah mikroskop saja. Mereka harus menentukan giliran siapa saja yang mengamati terlebih dulu dan menggambar hasil pengamatan. Sementara teman yang lain mengamati gambar sayatan melintang akar dan batang serta menganalisis hasil pengamatan. Sementara siswa melakukan praktikum, guru berkeliling untuk membantu siswa dan melaksanakan penilaian kinerja.Untuk mengetahui Format Lembar Kerja Siswa pada Praktikum Jaringan Tumbuhan, silakan klik di sini.

Melakukan Pengamatan di Tempat Terang

Mengamati Sayatan Daun dan Menggambarnya

Bergantian Menggunakan Mikroskop

Mengamati Gambar Sayatan Akar dan Daun

Melakukan Analisis dengan Menjawab Pertanyaan

Bila jumlah mikroskop yang tersedia memadai dan siswa sudah terbiasa menggunakan mikroskop, maka waktu praktikum dapat berlangsung sekira satu jam pelajaran (40 menit), 40 menit yang tersisa dapat digunakan untuk diskusi. Pada kenyataannya, kami tidak dapat memenuhi waktu tersebut, sehingga terpaksa kegiatan diskusi ditunda pada pertemuan berikutnya.

Pada pertemuan berikutnya, salah satu kelompok yang dipilih, mempresentasikan hasil pengamatannya sedangkan siswa lain menjadi audiens yang menyimak presentasi dengan cermat. Kelompok presenter dalam menyajikan paparannya dibantu dengan tayangan slide PowerPoint supaya poin-pon penjelasannya dapat diamati oleh seluruh siswa di kelas.

Selepas presentasi, sesi diskusi dibuka bagi audiens yang ingin mengemukakan pertanyaan kepada kelompok presenter. Diharapkan melalui sesi diskusi ini siswa dapat menggali informasi lebih banyak mengenai jaringan penyusun daun, akar dan batang. Mereka diberikan kesempatan untuk mengkritisi hasil pengamatan kelompok penyaji sehingga dapat diperoleh informasi yang benar. Di sini, kelompok presenter bukan menjadi satu-satunya pemberi informasi, siswa yang menjadi audiens pun berkesempatan untuk mengungkapkan apa yang diketahuinya. Bagaimana peran guru? Di akhir sesi diskusi guru memberi penguatan pada informasi yang benar dan meluruskan informasi yang kurang tepat agar para siswa di akhir pembelajaran dapat membangun informasi yang benar di dalam otaknya.

Suasana presentasi dan diskusi kelas dapat dilihat pada galeri foto di bawah ini.

Penyajian Presentasi di Kelas VIII-9
oleh Zaenul, Arie, Andrean, Rezza, dan Pandu

Penyajian Presentasi di Kelas VIII-10
oleh Ika, Marelda,
Wanda, Ulfah, Gaby, dan Dita


Sesi Diskusi