Jumat, Desember 10, 2010

Penggunaan Program Multimedia Interaktif dalam Pembelajaran Biologi

Dipublikasikan dalam Workshop Internasional Pendidikan IPA Tahun 2009
di Sekolah Pascasarjana UPI Bandung

Abstrak
Studi ini mencoba mengimplementasikan program multimedia interaktif (MMI) dalam pembelajaran biologi di kelas IX. Program MMI Reproduksi Hewan yang disertai berbagai gambar, animasi, dan video menjadi alternatif pemecahan masalah untuk bahan ajar yang banyak memuat konsep-konsep yang sulit untuk divisualisasikan.


I. PENDAHULUAN
Dalam konsep lama model penyampaian informasi, pendidik (teacher) berperan sebagai seorang expert yang menyampaikan informasi kepada peserta didik (learner). Akan tetapi, seiring dengan perubahan kurikulum, pembelajaran dituntut untuk lebih melibatkan peran aktif peserta didik. Apalagi sekarang ini siswa mempunyai kreativitas yang lebih tinggi, memiliki keinginan untuk mencari dan mendapatkan sesuatu yang baru, anti kemonotonan dan berjiwa dinamis. Karakter seperti ini tentu saja harus diikuti dengan pola pengajaran yang mampu menampung perubahan tersebut.

Guru hendaknya memiliki kepekaan dengan berani mencoba metode-metode baru yang dapat membantu meningkatkan kegiatan pembelajaran dan meningkatkan motivasi siswa untuk belajar. Guru yang baik berperan menyediakan, menunjukkan, membimbing, dan memotivasi siswa agar mereka dapat berinteraksi dengan berbagai sumber belajar yang ada (Depdiknas, 2003).

Tentu saja, sebelum memutuskan untuk menerapkan metode dan media tertentu dalam pembelajaran, guru hendaknya terlebih dahulu mengenali karakteristik siswa dan karakteristik bahan ajar. Seringkali guru menghadapi kendala ketika merancang kegiatan pembelajaran yang banyak memuat konsep abstrak. Sebagai contoh kasus ialah pembelajaran konsep reproduksi hewan di kelas IX, yang meliputi materi tentang reproduksi aseksual, ovulasi, dan fertilisasi.
Ketiga materi tersebut merupakan materi yang sulit dipahami oleh siswa SMP karena di dalamnya terkandung konsep yang bersifat abstrak dan sulit dijelaskan, sehingga tak ayal lagi pemahaman siswa terhadap konsep ini masih belum optimal. Walaupun anak yang berusia di atas 11 tahun berada pada tahap berpikir operasional formal (Piaget dalam Setiono, 1983), namun siswa SMP seringkali masih mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep yang bersifat abstrak. Ovulasi dan fertilisasi di dalam organ reproduksi wanita sulit untuk dieksplorasi secara detil karena tidak ada obyek langsung yang dapat dipelajari. Reproduksi aseksual hewan vertebrata sulit dipraktekkan di sekolah, sebab terkendala dengan sumber belajar yang terbatas dari lingkungan. Kondisi demikian dapat menyebabkan kesulitan bagi siswa untuk menguasai dan memahami konsep-konsep abstrak tersebut yang dapat memancing terjadinya miskonsepsi (Surbakti, 2000). Dengan demikian, untuk memahami suatu konsep yang abstrak anak memerlukan benda-benda yang kongkrit (riil) sebagai perantara atau visualisasi (Arifin et al., 2003). Oleh sebab itu, pembelajaran konsep reproduksi pada hewan perlu dibantu dengan menggunakan alat visualisasi.

Di era teknologi dan informasi ini, komputer bukan menjadi barang yang asing, bahkan komputer sudah dipergunakan dalam pembelajaran. Hanya saja, penggunaan komputer di kelas masih terbatas pada pembelajaran bidang studi tertentu. Padahal dengan berbagai fasilitas yang tersedia di dalam komputer, suasana belajar dapat menjadi menyenangkan (Universitas Negeri Jakarta, 2005).


II. MODEL MULTIMEDIA INTERAKTIF
Multimedia komputer merupakan gabungan teks, suara, gambar, warna, animasi, dan video dengan alat bantu (tool) dan koneksi (link) untuk dapat menyampaikan informasi sehingga pengguna dapat bernavigasi (The Florida Center for Instructional Technology University of South Florida, 2007). Multimedia sebagai gabungan berbagai jenis media mampu menciptakan suasana belajar yang begitu menarik dan menyenangkan sehingga akan memberikan motivasi belajar yang lebih tinggi dalam diri siswa (Ena, 2006; Ariasdi, 2008).

Multimedia memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar tidak hanya dari guru, tetapi memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan kognitif dengan lebih baik, kreatif dan inovatif. Hal ini salah satunya karena informasi disajikan dalam dua atau lebih bentuk seperti dalam bentuk gambar dan kata-kata (Mayer dan Moreno, 1998 dalam Saguni, 2006).

Multimedia juga dapat menjadi alat, metode dan pendekatan yang digunakan untuk membuat komunikasi di antara guru dengan siswa selama proses pembelajaran sehingga pembelajaran lebih berkesan dan bermakna. Kemampuan multimedia memberi pengajaran secara individu (melalui sistem tutor) bukan berarti tidak ada pengajaran secara khusus dari guru, melainkan siswa memiliki kebebasan untuk belajar mandiri tanpa harus selalu didampingi guru. Pengajaran langsung dari guru tetap dilestarikan, dan program ini bisa lebih memudahkan pengajaran. Guru tidak perlu mengulangi penjelasannya jika siswa tidak paham, sebab program bisa dilihat berulangkali sampai siswa benar-benar memahaminya. Sedangkan bagi siswa, penggunaan multimedia dapat lebih memacu motivasi belajar, dapat memberikan penjelasan yang lebih lengkap terhadap suatu permasalahan, dan memudahkan untuk mengulang pelajaran. Oleh karena itu, kehadiran multimedia dalam proses belajar dapat dirasakan manfaatnya. (Munir 2001 dalam Salmiyati, 2007).

Multimedia tidak perlu pencetakan hard copy (Nurtjahjawilasa, 2004). Berbagai variasi tampilan/visual bahkan audio mulai dicoba seperti animasi bergerak, potongan video, rekaman audio, paduan warna dibuat untuk mendapatkan sarana bantu mengajar yang sebaik-baiknya. Multimedia merangkum berbagai media dalam satu software sehingga memudahkan guru untuk menyampaikan bahan pengajaran dan siswa merasa dilibatkan dalam pembelajaran karena multimedia memberi fasilitas untuk berlangsungnya interaksi.

Satu jenis multimedia yang dianjurkan dipergunakan dalam pembelajaran adalah multimedia interaktif (MMI). MMI memungkinkan pengguna dapat memilih apa yang akan dikerjakan selanjutnya, bertanya atau mendapatkan jawaban yang mempengaruhi komputer untuk mengerjakan fungsi selanjutnya (Sutopo, 2003; Ariasdi, 2008). Beberapa pakar MMI (Muhammad, 2002; Setiawan, 2007), mengemukakan bahwa model pembelajaran MMI diartikan sebagai suatu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (message), merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong proses belajar.

MMI setidaknya memiliki dua elemen penting. Keduanya adalah animasi dan video (Reiber, 1994 dalam Nurtjahjawilasa, 2004; Chia, 2003). Animasi merupakan kumpulan gambar yang diolah sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan bahwa gambar-gambar yang ditampilkan bergerak (Suheri, 2006; Utami, 2007). Di sisi lain, video ‘menangkap’ citra yang bergerak untuk selanjutnya disimpan dalam rangkaian foto yang diam dan diputar kembali menjadi gerak sesuai durasi yang dikehendaki (Ariasdi, 2008). Menurut Ariasdi (2008), video cocok untuk menyajikan realita sedangkan animasi sesuai untuk menciptakan realita dari sesuatu yang tidak dapat ‘ditangkap’ oleh realita dalam citra visual.

Dengan karakteristik yang demikian, animasi dan video dapat menjadi media pembelajaran yang baik karena dapat memperlihatkan aspek-aspek yang dinamik sehingga lebih informatif, lebih jelas menampilkan materi subjek sehingga siswa mampu membuat interpretasi yang benar.
Animasi dan video tidak memerlukan pemakaian simbol tambahan (tanda panah, garis putus-putus, dan lain-lain) seperti yang sering digunakan pada ilustrasi statis. Dengan demikian, siswa yang belajar dengan memanfaatkan animasi dan video tidak perlu melakukan proses dekoding untuk menginterpretasikan simbol agar dapat memahami materi. Selain itu tampilan keduanya yang memikat dapat menarik perhatian siswa karena pada dasarnya manusia lebih menyukai sesuatu yang dinamis daripada statis (Rieber 1990 dalam Chan dan Black, 2005; Park dan Gittelman 1992 dalam Chan dan Black, 2005; Lowe, 2001; Nurtjahjawilasa, 2004; Suheri, 2006; Utami 2007).

Berikut merupakan bagan alur (flow chart) serta tampilan multimedia interaktif yang dikembangkan.

Gambar 1. Bagan Alur Program Multimedia Interaktif Reproduksi Hewan





II. CONTOH IMPLEMENTASI
• Kelas/ Semester : IX/ 2
• Konsep : Reproduksi Hewan
• Waktu : 2 pertemuan (4 x 40 menit)
• Pendekatan : Konsep
• Metode : Computer Assisted Instruction
• Standar Kompetensi :
7. Mengaplikasikan konsep pertumbuhan dan perkembangan, kelangsungan hidup, dan
pewarisan sifat pada organisme, serta kaitannya dengan lingkungan, teknologi, dan
masyarakat.
• Kompetensi Dasar :
7.3. Mengidentifikasi persamaan dan perbedaan cara reproduksi organisme

Tabel 1. RPP



IV. KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN
Berdasarkan hasil implementasi model pembelajaran di kelas, maka dapat disimpulkan bahwa model ini memiliki keunggulan dan kelemahan.

4.1. Keunggulan
  1. Pembelajaran MMI individual memberikan peluang lebih besar bagi siswa untuk melakukan eksplorasi dan simulasi untuk mengkonstruk pemahaman konsepnya.
  2. Kendali berada di tangan siswa sehingga tingkat kecepatan belajar siswa dapat disesuaikan dengan tingkat penguasaannya.
  3. Dapat mengakomodasi siswa yang lamban menerima pelajaran, karena ia dapat memberikan iklim yang lebih bersifat afektif dengan cara yang lebih individual, tidak pernah lupa, tidak pernah bosan, sangat sabar dalam menjalankan instruksi seperti yang diinginkan.
  4. MMI dapat meningkatkan kemandirian belajar siswa melalui pengulangan dan simulasi proses yang terdapat dalam program MMI.
  5. Tersedia soal-soal latihan dalam bentuk gamez.
  6. Tersedia soal evaluasi yang urutannya diacak beserta pembahasannya
  7. Adanya video dan animasi yang lebih eksplisit dan informatif dalam menampilkan suatu konsep meminimalisir terjadi kesalahan dan kesalahpahaman karena siswa mampu membuat penafsiran yang benar.
  8. Penggunaan multimedia menuntut keterlibatan organ tubuh seperti telinga (audio), mata (visual), dan tangan. Keterlibatan berbagai organ ini membuat informasi lebih mudah diingat.
4.2. Kelemahan
  1. Diperlukan dana yang tidak sedikit dalam merancang program MMI. Namun sekarang sudah tersedia program MMI yang diperjualbelikan dengan harga terjangkau.
  2. Diperlukan komputer dalam jumlah yang banyak.
  3. Pembelajaran dengan menggunakan MMI menuntut keahlian guru dan siswa dalam menggunakan dan mengoperasikan komputer. Guru dan siswa juga hendaknya memiliki sikap yang positif terhadap komputer.
  4. Pembelajaran sedikit bersifat isolatif. Namun dapat diminimalisir dengan keterlibatan guru dalam membimbing siswa merekonstruksi pengetahuan di akhir pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Ariasdi. (2008). Panduan Pengembangan Multimedia Pembelajaran. [Online]. Tersedia:
http://ariasdimultimedia.wordpress.com/2008/02/12/panduan-
pengembangan-multimedia-pembelajaran.html [10 Mei 2008].

Arifin, M. et al. (2003). Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA
UPI.

Depdiknas. (2003). Media Pembelajaran. Jakarta: Depdiknas.

Ena, O. (2006). Membuat Media Pembelajaran Interaktif dengan Piranti Lunak Presentasi.
[Online]. Tersedia: www.ialf.edu/kipbipa/papers/OudaTedaEna.doc [14
September 2007].

Nurtjahjawilasa. (2004). Efektifitas Multimedia dalam Menunjang Pembelajaran. [Online].
Tersedia: www.pusdiklathut.com/silvika_eng.php [26 Februari 2007].

Saguni, F. (2006). Prinsip-prinsip Kognitif Pembelajaran Multimedia: Peran Modality dan
Contiguity Terhadap Peningkatan Hasil Belajar. Dalam Insan [Online], Vol 8
(3), 11 halaman. Tersedia: www.journal.unair.ac.id/filerPDF
/01%2520-%2520Prinsip-Prinsip%2520Kognitif%2520
Pembelajaran%2520Multimedia%3DPeran%2520Modality%2520dan%2520
Contiguity%2520Terhadap%2520Peningkatan%2520Hasil%2520Belajar.pdf
[21 Maret 2008].

Salmiyati. (2007). Implementasi Teknologi Multimedia Interaktif dalam Pembelajaran Konsep
Sistem Saraf untuk Meningkatkan Pemahaman dan Retensi Siswa. Tesis
Magister pada SPs UPI: tidak diterbitkan.

Setiono, K. (1983). Teori Perkembangan Kognitif. Bandung: Fakultas Psikologi Unpad.

Suheri, A. (2006). Animasi dalam Pembelajaran. Dalam Animasi dalam Pembelajaran [Online],
Vol 2 (1), 7 halaman. Tersedia: http:// unsur.ac.id/images/articles
/27_33_pak_agus.pdf [2 Juni 2007].

Surbakti, R. (2000). Analisis Miskonsepsi Siswa Madrasah Aliyah tentang Konsep Reproduksi
Sel. Tesis Magister pada SPs UPI: tidak diterbitkan.

The Florida Center for Instructional Technology University of South Florida. (2007). Multimedia
in The Classroom. [Online]. Tersedia: http://fcit.usf.edu/multimedia
/overview/overviewa.html. [22 Mei 2007].

Universitas Negeri Jakarta. (2005). Pemanfaatan Teknologi Informasi dan
Multimedia dalam Pembelajaran. [Online]. Tersedia: http://www.unj.ac.id
/seminar/snpf2005/content.htm [5 Juni 2008].

Utami, D. (2007). Animasi dalam Pembelajaran. [Online]. Tersedia: http://www.uny.ac.id
/akademik/sharefile/files/222.124.21.201_12032007111113_
Efektifitas_Animasi_Dalam_Pembelajaran.doc [14 September 2007].

Untuk memperoleh artikel ini dengan tampilan yang lebih jelas, silakan Anda mengklik link ini atau di sini

1 komentar:

Pujo Cahyono mengatakan...

Bagus, kembangkan terus. Teknologi tumbuh dan berkembang tidak akan terhenti...